the run

take me on the run, please.
perhaps I just can't stand the feeling of being stupid and extremely idiot

Saya :satu yang saya nggak ngerti, kenapa harus kamu?
Kamu :bukan nggak... tapi belum. kamu cuma belom ngerti aja.
S :emangnya kamu ngerti?
K :nggak... makanya ayo kita ngertiin bareng-bareng. soal kenapa kamu, kenapa saya dan kenapa harus kita

surat untuk seseorang

untuk seseorang,

lucu rasanya kalau saya bertanya 'kenapa' pada kamu sekarang. Karena toh saya tahu kamu tidak akan pernah menjawab. Retoris. iya, itu namanya. saya lelah. kamu juga lelah. mungkin itu alasannya kamu mundur tiba-tiba. Rasanya lega.

sedemikian lega karena kamu sudah benar-benar pergi degan jejak tipis, hampir tidak terlihat, hampir tidak terasa kamu ada atau pernah ada.

saya bukan tipikal orang jahat yang bisa menjahati kamu dengan tidak membalas pesan atau setidaknya tidak membaca bbm yang kamu kirim, saya hanya tidak sejahat itu. saya masih punya kesadaran untuk tidak melakukan itu karena saya tahu rasanya sakit ada di posisi macam itu.

Sekarang kamu pergi, saya lega. saya tidak perlu melakukan hal-hal jahat yang kata orang perlu dilakukan. tapi melepaskan kamu mungkin tidak semudah itu. Saya pernah menyayangi kamu dulu. punya rasa, katakanlah begitu. rasa yang katamu jangan terlalu dalam. Ya, jangan terlalu dalam, hanya saya yang sakit pada akhirnya.

terimakasih sudah pergi, saya lega. kamu pun lega. saya yakin itu.


never mind I’ll find someone like you. I wish nothing but the best for you.

persis seperti lirik lagu yang kamu nyanyikan untuk saya siang itu. semoga tujuanmu itu memang bisa terjadi. melepaskan saya untuk orang lain yang... seperti saya. ironis.

sekarang saya dan kamu sudah sedemikian jauh, bahkan menatap pun tidak. kita mulai semua dari awal, tidak kenal... seutuhnya. sama sekali.

rasanya seperti direinkarnasi dalam hidup sendiri. memulai semua dari awal secara sadar. mungkin kita harus kenali satu sama lain dari awal, dengan cara yang tepat. dengan cara yang benar.

mungkin itu akan lebih baik.

ya... mungkin nanti.

mungkin.


n.b. terimakasih sudah menemani saya ketika saya tidak bisa tidur, memeluk saya ketika saya menangis, marah ketika saya sakit dan susah diatur, membangunkan saya di pagi hari, menyuruh saya tidur sebelum tengah malam, melarang saya keluar malam supaya tidak sakit, mengingatkan saya untuk makan setiap hari, memberi perhatian yang lebih dari cukup.

dan saya sudah jatuh terlalu dalam kemarin. tak apa. saya sudah kembali lagi. seperti ketika saya tanpa kamu.


terimakasih,





Bernadetha Amanda

saya pernah menjadi seseorang untuk kamu,

ya katakanlah begitu.


P.S.

Demi Tuhan surat ini... luar biasa klise.

ya saya memang harus melewati fase ini. fase klise untuk bisa memaafkan diri sendiri dan berhenti merasa bodoh.

saya sendiri sudah tergopoh-gopoh karena lelah memikul nyeri ini terlalu lama.

klise. ironis. mereka selalu ada berdampingan.

hidup.

UTS, tugas, Ahmad Fuadi, Agus Yudhoyono, jakarta.

Saya tidak melakukan banyak hal akhir-akhir ini. saya sibuk dengan uts berhubung saya anak kuliahan sekarang. Tugas menggunung di pojok kamar saya, benar-benar menggunung secara harafiah. Terakhir kali saya kerjakan saya mulai pada pukul enam sore dan baru benar-benar lepas dari rentetan huruf dan kata-kata yang diurai bebas dari kepala saya pukul satu pagi. Benar-benar tanpa jeda. benar-benar melelahkan.

Belum selesai penat saya, habis sudah tenaga saya untuk menuntaskan semua tugas yang tidak tahu waktu itu, pada akhirnya bahan ujian tengah semester tidak tersentuh, sama sekali tidak tersentuh. hari sebelumnya kami satu angkatan dibabat habis oleh dewan keamanan HI. dari angka 131 yang hadir untuk ospek jurusan pada hari kedua, hari itu hanya 62 orang yang memutuskan hadir, bahkan setengah angkatan pun tidak. Penat, lelah. luar biasa lelah. rasanya ingin membanting tubuh, mengunci kamar, tidak membiarkan siapapun masuk. diam dan hanya diam. mengatasi kepenatan remeh temeh ini sendirian, sampai sembuh.
Untunglah hari itu saya mendapat keberuntungan. saya berhasil mendapat tanda tangan dari seorang ahmad fuadi, penulis negeri 5 menara dan ranah 3 warna. luar biasa lucu rasanya, padahal yang saya dapat sekadar goresan abstrak dari bolpoin faster biasa.
Esoknya saya bertemu Agus Yudhoyono. iya. persis. anak dari pak presiden kita. kadang-kadang rasa beruntung datang tiba-tiba. saya juga kaget bagaimana keterpaksaan saya untuk datang ke kuliah umum hari itu bisa membuahkan pengalaman luar biasa untuk bertemu dengan seorang tentara yang baru saja pulang dari Lebanon itu. dia yang adalah anak seorang presiden. Gila! ujar saya dalam hati mengingat betapa saya terpaksa muncul dan memberi absen hari itu.
sekarang saya tidak sabar menunggu besok. saya pulang ke Jakarta. senang sekali rasanya pulang kembali ke rumah.

"saya lelah merasakan rasa"

entahlah. rasanya luar biasa penat.

saya bisa duduk berjam-jam di dalam kamar, tanpa melakukan apapun. menangkap keadaan dimana melamun menjadi sangat menyenangkan dibanding tidur. mendoktrin pikiran bahwa melamun lebih mengenyangkan dibanding makan. bermain bohong dengan diri sendiri bersama anggapan bahwa melamun akan memperbaiki semuanya.
entahlah, saya hanya ingin melakukan semua ini sepanjang hari.
saya ingin diam, tertawa ketika ingin, menangis ketika butuh, meratap ketika harus, memejamkan mata tanpa tertidur, rebah di atas lantai tanpa merasa dingin, bersahabat dengan suara angin, mendengar hanya suara lagu yang diputar acak.
memejamkan mata, tanpa tahu dunia. tanpa tahu orang lain. tanpa tahu soal rasa. tanpa tahu apa itu penat. tanpa tahu apa itu sakit. tanpa tahu apa itu takut. tanpa tahu apa itu waktu.
karena kadang kita butuh untuk tidak tahu apa-apa.
saya ingin menangis berjam-jam jika mungkin. tanpa ada ketukan di pintu atau suara ponsel yang berdengung.
saya ingin rebah di lantai, diam, begitu saja, sampai pagi.
biar semua diam, biar semua terasa sunyi.
saya lelah beramai-ramai.

karena tanpa suara, tanpa pengetahuan, tanpa rasa ingin tahu mungkin dunia akan jadi tenang.
tenang tanpa dinamika. seperti laut yang tenang tanpa ombak, dan langit bersih tanpa awan.
saya ingin setenang itu, sebersih itu, sediam itu.
ketenangan sempurna ketika saya hanya tahu siapa saya.

jujur, saya hanya tidak ingin tahu soal apapun sekarang.
saya ingin menangis jika itu mungkin.
saya hanya butuh tidak tahu apa-apa.
tutup telinga saya, biar saya memajam, membuat diri saya merasa kebas, bebal terhadap rasa, apapun itu.
saya lelah merasakan rasa.

~

pertama: saya ingin pulang ke jakarta

kedua: kemudian lanjut ke jogja dan solo
ketiga: kemudian jalan-jalan dari utara dan lanjut ke selatan
keempat: kemudian menjelajah barat hingga timur
kelima: lalu memandangi matahari kuning hingga jingga kemerahan
keenam: melihat kamu tertidur lelap dengan tangan terlipat di bawah kepala
ketujuh: memperlambat waktu dan menahan angin, membelai rumput di bawah tangan saya, lalu berkata "saya ingin seperti ini selamanya"

hei, saya merindukan kamu dan jiwa bebasmu.
kemana saja kamu?
saya terjebak dalam infinitas tanpa distraksi.

tujuh fragmen imaji

saya merasa luar biasa melankolis akhir-akhir ini. Lucunya sedemikian melankolis sampai saya merasa hal ini tidak masuk akal. Saya mungkin pernah semelankolis ini, hanya saja tidak pernah sejelas ini dan tidak pernah seterbuka ini. Rasanya aneh ketika rasa macam ini bisa dibagi dengan orang lain, dan beberapa detik kemudian orang itu akan bergumam "saya juga begitu..."

pikiran bahwa pengalaman tidak pernah sama, dan tidak pernah dibagi rata secara utuh menguap seketika. saya tahu saya bisa membagi pengalaman ini dengan mereka yang tahu pasti bahwa mereka juga merasakan hal yang sama.
mengalami dan membagi sesuatu, membuat perubahan, lalu bergerak beriringan. Betapa sebuah fragmen yang sempat sulit ditemukan bisa ditemukan kembarannya. tidak dalam bentuk satu orang manusia. kali ini dalam bentuk tujuh manusia luar biasa. yang entah bagaimana caranya menyihir saya degan pola pikir dan tingkah mereka yang luar biasa ajaib.
seperti diikat, tidak bisa tidak bahwa kami akan terus menertawakan bahan yang sama, menangisi ratusan hal berbeda, dan tidak menutup kemungkinan untuk terus mendapatkan bahan tangis dan tawa yang baru.
tidak ada hal yang semburna buruk dan sempurna baik. apapun adanya itu, saya yakin harus seimbang. dan semua keseimbangan itu datang dari hati (ya saya serius, kedengaran klise, tapi coba pikirkan).
hati seseorang butuh kesetimbangan. butuh ratusan fragmen penyusun yang solid dan tidak boleh berlubang. ukuran hati seseorang tidak akan sempurna jika satu fragmen imajinya lepas, meliar, tidak ditemukan. begitu teorinya.
dari sinilah hadir semua wujud fragmen itu. dari sesuatu yang disebut hidup dan pengalaman. menghidupi pengalaman, mengalami hidup, seimbangkan. itu intinya.
kita harus bisa tertawa kemudian menangis. menangis kemudian tertawa. harus terbiasa dengan itu sebelum waktu belajar habis. karena toh tidak ada yang bertahan selamanya, kan?
dan kalaupun saya merasa sebagian dari fragmen imaji itu sudah ditemukan, kemudian harus terus ditahan untuk bisa bertahan, saya tidak keberatan untuk menahannya.

dan untuk 7 fragmen imaji yang baru ini, saya ucapkan terimakasih.
betapa berharganya memiliki kalian disini, sekarang.

tanyakan saja pada saya jika tidak paham dengan tulisan yang satu ini. agak rumit, karena semakin saya tahu artinya semakin saya rumit menggambarkannya.
manusia. katakanlah begitu :)

Diberdayakan oleh Blogger.

Search This Blog

press PLAY!

Ada kesalahan di dalam gadget ini

other posts...

want to know something?

Foto Saya
Bernadetha Amanda
I know English, a little French, and I do speak Ngoko and a few Krama (Javanese language has three kinds of hierarchical language, they're two of them) at home, well, mostly. I'm a big fan of Javanese literature, traditional art, music, theatrical performances, and books but I got this lack of time and chance to do all that stuff... yeah THROW A CONFETTI. (and yeah, feel free to drop some comments... BISOUS :*)
Lihat profil lengkapku
Ada kesalahan di dalam gadget ini

now, count!

free hit counter

followers

Pages