abstrak?
sebenernya gue bingung... kenapa ada orang yang sebegitu jahatnya, tapi punya pengaruh yang sebegitu hebat?
bahkan hal yang salah bisa jadi bener
dan yang bener bisa jadi salah
cuma karena dia.
sehebat apakah kemampuan ngomongnya dia?
sepersuasif itukah dia sampai orang bisa percaya apapun yang dia omongin, padahal dari awal mereka tau... yang dia omongin itu sebenernya salah...
dan hebatnya... mereka masih tetep percaya.
yang dia omongin adalah fakta... tapi entah gimana caranya, fakta itu berubah, dan masih terdengar sama... benar... dan meyakinkan...
gue mengagumi kemampuannya yang hebatnya banget-bangetan...
tapi gue benci setengah mati untuk satu alasan yang gue gak bisa terima...
gue gak nyangka dia bisa melakukan hal seburuk itu, gue nggak pernah nyangka dia sejahat dan seburuk itu.
dia jahat, gue tau. tapi... gue nggak bisa berbuat apa-apa...
gue bukan siapa-siapa sementara dia adalah segalanya... grrr gue benci perumpamaannya, tapi emang kaya gitu...
gue kesel...
panas rasanya kepala gue, tapi itu nggak akan mengubah apapun
dia tetep dia, gue tetep gue. dan apapun yang udah terjadi kemaren, akan jadi anggepan untuk... bertahun-tahun ke depan, dan nggak akan pernah berubah.
satu temen gue bilang: mereka pasti udah lupa lah...
tapi menurut gue nggak, nggak akan ada yang lupa, selama masalah ini masih nempel di otaknya dia, dia akans enantiasa membahas hal ini setiap kali clue 'itu' muncul.
dan clue itu adalah: gue.
sumpah gue nggak tau dia sejahat itu...
demi Tuhan, gue nggak pernah nyangka.
dan gue yakin banyak yang nggak ngerti apa yang gue omongin,
abstrak ya? emang...
dunia nggak pernah jadi senyata itu kalau lo berhadapan langsung dengan orang seperti DIA.
Rabu, September 01, 2010 | Label: I'm invisible, school | 0 Comments
All that I know is I'm breathing
The storm is coming but I don't mind
People are dying, I close my blinds
All that I know is I'm breathing now
I want to change the world
Instead I sleep
I want to believe in more than you and me
But all that I know is I'm breathing
All I can do is keep breathing
kadang, semua hal yang berputar di pikiranmu terlampau berat untuk kau tahan. dan di saat yang sama... kau akan berpikir untuk melepaskan semua pemikiran itu... karena bagimu, semua itu hanyalah beban... tak lebih. hanya beban.
jika kau boleh memilih, kau akan dengan senang hati melepaskan semuanya, dan tertidur... lelap... sampai setidaknya kelopak matamu tak lagi terlalu lelah untuk kembali disilaukan matahari.
kau ingin mengabaikan semua suara yang berteriak di telingamu, semua hal yang berkelebat di depan matamu, semua yang berguncang menggetarkan pikiranmu, semua yang memberatkan kedua bahumu.
kau menutup mata. menyumbat telingamu. menghentikan jalan pikiranmu. menyandarkan kedua bahumu. dan kau tak lagi peduli.. pada apapun.. apapun yang berguncang.. siapapun yang berteriak... segala sesuatu yang berjatuhan dari langit, terbawa angin... dan kau membiarkan dirimu terlampau bahagia dalam pelukan nafasmu.. hanya kau.. dan nafasmu... yang kau tahu dan kau ingin hanyalah hidup.. dan bernafas.. tanpa beban.
tapi kau sadar... kau tahu apa yang kau ingini, dan kau bisa saja bergerak sekarang... namun yang mampu hanyalah diam, dan berjuang untuk tetap bernafas. kau ingin mengubah semuanya... semuanya yang pernah kau lepaskan, semua yang pernah jatuh... kau ingin mengubah dunia, duniamu, dunia mereka, dunia ini.
tapi ada satu hal yang lebih kau tahu, satu hal yang lebih mampu kau mengerti dari sekedar teori untuk mengubah dunia:
.saat ini, detik ini, kau hanya bisa bernafas, bernafas dalam diam.
karena dengan bernafas... kau merasa sungguh beruntung, lebih dari beruntung... kau merasa bahagia. karena semua kelelahan itu... pergi seiring kau menghembuskan nafas sampai nanti kau terbangun lagi, dan sanggup menatap bola jingga raksasa yang bergelantung di atas kepalamu.
Jumat, Maret 20, 2009 | Label: I'm invisible, light bulb, ordinary girl | 0 Comments
this 'sorry' is for 'YOU'
salahkan aku karena aku tak menyadari kau memberikan kesempatan itu kesekian kalinya.
maafkan aku karena aku begitu bodohnya kerena tak mengerti bahwa kau memang ada di sana untukku.
salahkan aku karena menyia-nyaiakan semua yang kau tawarkan tanpa memikirkannya terlebih dulu.
maafkan aku karena membicarakan hal klise yang mungkin membuatmu muak.
salahkan aku karena membuatmu lelah dengan semua tuntutan-tuntutan abnormal yang keluar dari kepenatan dan datarnya cara bicaraku.
maafkan aku karena tak menganggap kau ada di sana saat aku butuh.
salahkan aku karena membirkanmu berdiri di sana, menunggu, tanpa sebuah kejelasan.
maafkan aku karena menyangka kau hanya ada disampingku hanya saat kau egois atas waktuku
salahkan aku karena menyia-nyiakan waktu sempit yang sempat ada di sana, waktu itu, saat aku menyadari betapa bodohnya aku yang terus mengatakan maaf untuk kesekian kalinya.
Jumat, Februari 27, 2009 | Label: I'm invisible, ordinary girl, stuck | 0 Comments
bukan apa-apa!
Apa? Aku hanya seorang gadis biasa berumur 15 tahun. Itu saja. Tak ada yang lebih dariku. Tak ada piala-piala. Tak ada medali-medali kejuaraan. Tak ada gelar-gelar khusus. Biasa. Hanya seorang gadis biasa. Seorang gadis yang suka bermimpi. Tapi akhir-akhir ini aku malas bermimpi. Kenapa? Awalnya apa yang aku impikan selalu indah. Namun akhir-akhir ini semua mimpi itu seolah berputar dan pergi entah kemana. Aku jadi memimpikan hal yang tak semestinya ku pikirkan. Hidup. Masa depan. Kematian.
Dulunya aku suka memikirkan masa depan dan hidupku. Aku suka sekaligus takut. Takut kalau-kalau mimpiku hanyalah sebuah buaian angin semata, hanya sebuah harapan kosong yang hanya membuatku menghabiskan waktu sia-sia. Aku memejamkan mataku memeluk bantal dan mulai bermimpi. Aku. Hidup. Masa depan. Lalu entah kenapa aku mulai berpikir bagaimana akhirnya.
Seolah membuat sebuah cerita, aku merangkai setiap adegannya dari awal, namun bedanya, yang aku rangkai adalah hidupku sendiri, yang sampai sekarang aku tak tahu bagaimana akhirnya. Aku sempat berpikir untuk jangan pernah berpikir tentang akhir hidupmu atau kau akan mencoba untuk mengakhirinya seketika itu juga. Hampir tiap hari aku berkata seperti itu pada sahabat dan teman-temanku. Aku memang munafik. Aku pernah merasa menjadi gadis paling munafik di seluruh dunia. Aku tidak pernah tetap dengan hatiku entah dalam hal apapun. Persahabatan, keluarga, pelajaran, bahkan aku masih berperan seperti orang munafik dalam mimpiku.
Aku berprinsip: “hidup ini adalah sebuah panggung teater. Segalanya sudah disiapkan, tinggal kau yang menjadi pemeran utama yang akan membawa naskah itu ke arah yang benar. Lakukan yang terbaik supaya pertunjukan itu berhasil. Apapun yang terjadi...”
Jelas bukan? Lalu apa yang aku kejar? Akhir drama yang indah? Atau akhir drama yang dramatis?
Sayangnya selama ini aku selalu memikirkan bagaimana cara mengakhiri drama ini dengan dramatis, dan kalau mungkin, akhiri ini dengan cara yang begitu heroik atau bahkan melankolis. Atau dengan kata lain, jika aku menyamakan hidup sebagai panggung teater, jalan hidup sebagai naskah, aku sebagai pemeran utama, maka akhir dari sebuah drama itu adalah kematian. Iya bukan? Jadi bisa ditangkap bahwa aku ingin mati dengan dramatis. Bodoh? Iya, aku sadar aku bodoh. Tapi ada berapa juta orang bodoh di dunia ini yang ingin mengakhiri hidupnya dengan begitu dramatisnya? Banyak. Lalu kenapa mereka mau jadi bodoh seperti aku? Aku sendiri belum tahu alasannya. Alasan pasti kenapa aku ingin mengakhiri drama yang kubintagi ini dengan dramatis. Supaya drama ini dikenang? Ya, mungkin. Hampir semua drama diingat karena akhirnya yang dramatis. Romeo dan Juliet, diakhiri dengan Juliet yan jatuh terkulai bersama kekasihnya, Romeo dalam kematian. Dan terbukti, drama teater itu masih menggema hingga sekarang.
Tapi aku ingin mati dramatis supaya aku dikenang orang? Percuma. Sekarang, berapa banyak orang yang akan mengenangku ketika aku mati nanti? Seluruh dunia? Seluruh benua? Seluruh negara? bisa dijamin kematian yang dramatis ini tak akan berarti bagi dunia. Lalu, apa aku mau? Untuk apa aku mati tapi tak berarti apapun. Untuk apa akhir dramatis ini kalau tak dinikmati oleh seluruh umat di dunia selayaknya akhir dari Romeo dan Juliet?
Jadi kini aku mulai berpikir, percuma jika kau akhiri hidup kosong dengan sesuatu yang dramatis, seolah kau mengahabiskan tinta untuk melengkapi sebuah naskah kosong. Namun semuanya akan lebih berarti lagi jika hidup ini kita buat berisi sebelum berakhir. Jadi dengan cara apapun kita akhiri, cerita drama itu akan selalu dikenang. Entah dramatis, klise, datar atau apapun akhirnya, cerita itu, ceritamu, hidupmu, akan ada di pikiran, hati dan hidup setiap orang yang mendengarnya. Dan kalaupun berakhir, namamu tak akan begitu cepatnya hilang secepat pasir di atas porselen yang habis dihembus angin, tapi selayaknya barisan dan tumpukan jutaan butir pasir pantai yang tak habis dihamburkan angin, namamu akan selalu ada.
Sekarang aku ingin berkata pada kalian yang membaca ini, jangan pernah jadi sepertiku yang hanya mencari tahu dan bermimpi mengenai akhir dari hidup. Cari tahulah apa yang akan kau lakukan pada hidupmu selanjutnya supaya hidupmu tak menjadi sia-sia. Kalaupun sudah sia-sia, jangan coba untuk akhiri dengan dramatis. Percuma, ibaratnya seperti sudah kosong kau hancurkan juga, tak akan ada yang mengingat, hanya terjurai sedikit rasa iba seolah kau adalah orang yang tak bisa apa-apa dan perlu dikasihani dengan air mata, padahal, kalau kau mau, kau bisa saja mengisi lebih banyak supaya kau tak layak ditangisi karena kasihan ketika kau mencapai puncak dan akhirnya nanti.
Jadi, sekali lagi aku ingin kalian tahu, nanti ketika kalian mendengar namaku, kupastikan kalian akan mendengar nama seorang hebat, seorang terkenal, dan seorang pintar yang mampu mengisi naskah hidupnya dengan kejadian-kejadian indah, menyenangkan, penuh petualangan, dan berarti. Bukan orang bodoh yang hanya bisa memenuhi naskahnya dengan tinta-tinta corengan tak berguna, yang hanya ingin dan (lebih buruknya) akan mengakhiri naskah kosongnya dengan akhir dramatis tanpa arti. Ini aku. Untuk hidupku. Untuk dunia, suatu hari nanti.
*(dibuat) untuk orang lain!*
Kamis, Oktober 02, 2008 | Label: I'm invisible | 1 Comments
Search This Blog
press PLAY!
other posts...
want to know something?
- Bernadetha Amanda
- I know English, a little French, and I do speak Ngoko and a few Krama (Javanese language has three kinds of hierarchical language, they're two of them) at home, well, mostly. I'm a big fan of Javanese literature, traditional art, music, theatrical performances, and books but I got this lack of time and chance to do all that stuff... yeah THROW A CONFETTI. (and yeah, feel free to drop some comments... BISOUS :*)
Listed
-
Kind.8 tahun yang lalu
-
mencipta bahagia8 tahun yang lalu
-
-
-
Hey, this IS the 'next' post13 tahun yang lalu
-
-
-
swingin life15 tahun yang lalu
-
-
-
-
-