Tampilkan postingan dengan label and the truth is.... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label and the truth is.... Tampilkan semua postingan

Selasa, 00.00

betapa dunia memiliki batas, seperti imaji yang dilepas.

sebuah batas imajiner. yang berbohong dengan jujur.
ironis. bagaimana manusia dipisahkan oleh sesuatu yang tak terlihat.
musim kosong.
mencakar langit, seperti tangis yang tidak bisa retak.
betapa saya dan kamu berbeda
dipisah oleh garis imajiner
yang kelak, akan bicara jujur tentang menipu.
betapa hal ini terus disoal?
entahlah, saya belum paham.
hanya belum paham. itu saja.

selasa, pukul 00.00
saya terbangun dengan ngilu luar biasa
dengan batin yang mengebas,
dikebas,
terkebas.
luar biasa.
sedemikian luar biasanya, hingga saya tidak bisa paham.

cukup.

Tidak ada yang tahu. tidak banyak yang tahu. dan rasanya tidak perlu ada yang tahu. tentang saya dan kamu. dan tentang apa adanya sekarang.

antara daya saya yang menyusut. dan sakit yang dilepas.

sekarang saya mundur, ini sudah keputusan saya.
perkara menyesal atau tidaknya saya
perkara ini karena kesalahan siapa
perkara... kenapa saya tidak berdaya menghadapi apa yang sudah saya mulai
perkara siapa dia
siapa saya
perkara rasa
perkara hati
perkara manusia
perkara suka
perkara duka
perkara saya
perkara kamu

biar saya yang hadapi sendiri
jangan ada yang ikut campur
saya yang mulai, saya yang selesaikan

awalnya terasa tidak memiliki akhir,
kalau begitu biar saya yang bentuk akhirnya sendiri
dengan kedua tangan saya yang sudah terlanjur terulur.
saya menyayangi kamu, apa adanya.
seperti adanya saya
seperti adanya kamu.
seperti kamu yang tidak banyak bicara.

saya paham, sudah selesai. dan saya menyerah
saya mundur.
saya rela.
cukup rela.

betapa kata cukup membuat saya ingin loncat dari tebing yang tinggi
melayang bersama udara.

tentang kisah yang tidak mungkin dan tidak semestinya bisa terjadi
saya mestinya tahu dari awal.
hanya akan ada saya yang sakit pada akhirnya.

saya egois, ya saya tahu.

saya salah kalau terlalu egois.

ya saya tahu, lebih dari tahu.
masalahnya... saya tidak tahu bagaimana cara memulai semuanya ini sendiri.
saya benar-benar tidak tahu.
tidak, saya tidak merasa dibohongi,
saya juga tidak marah.
demi apapun itu.

saya senang mendengar kabar itu. iya.
tapi saya sedih, menjadi orang pertama yang tahu.
rasanya aneh...
ya kalau memang itu yang kamu mau, silakan
siapa saya? apa hak saya? bisa apa saya?
kalau saya harus berakhir menangis sambil mengetik satu demi satu kata yang lama-lama habis dikuras seperti sekarang ini, ya mungkin memang ini akhirnya.
saya hanya sedih, karena merasa kehilangan sesuatu
sesuatu yang penting.

ya toh ini hasilnya, kan?
saya sedih, tapi kesedihan ini tidak berarti apa-apa untuk sekarang
saya hanya buang-buang waktu
mengganggu orang lain dengan ocehan tidak penting di twitter, katanya saya galau.
lucu betapa saya tidak merasa cukup senang dengan hasil terbaik yang kamu dapat.
lucu betapa saya menjadi begitu egois.
lucu betapa saya begitu memaksakan kehendak.
lucu betapa saya tidak membalas permintaan maaf kamu.
lucu betapa saya secara jujur menyesali semua usaha saya dulu.
lucu betapa saya merasa sangat cengeng.
lucu betapa saya powerless dan hanya bisa menolak menjawab setiap ada orang yang bertanya "kamu kenapa?"
lucu betapa saya tidak menghargai kesenangan kamu.
lucu betapa saya merasa kehilangan.
lucu betapa saya merasa jauh.
lucu betapa sekarang saya merasa bodoh.
lucu ketika saya sadar betapa menangis bisa menghilangkan rasa sakit.
lucu betapa saya tidak lagi tahu apa dan siapa saya ini?
lucu betapa saya merasa seperti tertuduh.
lucu betapa saya sadar saya harus memulainya dari awal lagi
sendirian.

lucu. sangat lucu.

maaf kalau saya terlalu egois.
maaf kalau saya terlihat tidak senang,
maaf, saya hanya sedih.
sedih karena tahu, mungkin semuanya tidak akan sama lagi seperti dulu.
ya... entahlah.
rasanya aneh.
rasanya seperti... kehilangan.

selamat, saya senang untuk kamu.
saya rasa saya harus berhenti merasa sedih dan memaksakan kehendak.
dan kalau kamu bilang tidak akan ada yang berubah,
bahwa semua akan sama saja seperti kemarin,
itu bohong,
saya tahu, tidak pernah ada yang sama, tidak ada dan tidak akan pernah ada yang sama.
semua pasti berubah
mungkin hanya saya yang belum siap menerima itu
tidak ada yang bertahan lama, tidak ada yang bertahan selamanya
seharusnya saya tahu sejak awal bahwa di setiap akhir fragmen pasti ada yang hilang.
dan saya harus siap kehilangan.
saya hanya belum siap saja. dalam memori saya, saya didoktrin bahwa tidak akan ada yang berubah.
saya benci perubahan, kamu tahu itu.
maka saya belum siap memiliki dan memeluk perubahan ini.
tapi semua akan berubah, saya belum siap, dan saya menangis.
ini excess nya. saya sudah tahu dari awal, tapi saya selalu menolak untuk siap.

tapi, tetap saja
terimakasih atas semuanya.
saya senang kamu dapat apa yang kamu mau.
saya tidak bisa berbuat apa-apa kalau memang kesana arahnya.
terimakasih. terimakasih.
:')

saya lega bisa meluapkan semua ini.
sendiri. pada akhirnya.

harsh. IDC.

ini bukan masalah siapa saya, siapa kamu, siapa dia, siapa mereka.

bukan perkara siapa di belakang siapa.
tidak perlu dipertanyakan siapa mendukung siapa.
usahlah berusaha menyalahkan.

ini hanya soal kesadaran, siapa yang membangun sesuatu bukan di teritorinya.
siapa yang berbuat bukan di wilayahnya.
siapa yang bertindak diluar batas kewajaran, tapi merasa diri benar.
siapa yang tidak berbuat jujur apalagi logis.
siapa yang berdiri dibalik punggung pers dan bercuap seolah dia bisa menjatuhkan apapun...
berdalih, karena dia bersalah.
siapa yang mendirikan hubungan, diatas batas yang tidak semestinya.

ini masalah ego
hanya masalah itu. katakanlah begitu.
apa perlu disoal?

toh Tuhan akan mendengar permohonan tiap orang...
permohonan yang benar tentunya...
bukan permohonan sepihak
egois
yang mencoba melukai pihak lain
Tuhan tidak pernah mengijinkan manusia ciptaanNya terpuruk, kan?
tunggu saja tanggal mainnya.

bermain-main di ekor mata saya saja sudah salah, walaupun saya tidak ada sangkut pautnya, saya bersedia membela, dan bersedia membuat kalian merasa bersalah.
saya senang membuat orang lain minta maaf,
walaupun akhirnya kemungkinan dimaafkan itu sedikit...
toh kalian bersalah, dan tidak sadar.
hhhh bebal.

kamu berani bermain-main dengan orang dekat saya,
saya akan bicara lebih dekat lagi dengan kamu, bermain-main dengan kemampuan otak kamu,
yang dangkal.

and the truth is...
I just want to say, don't you dare...
don't mess up with me.
I do care about these guys,
you *peeep*
go *peeep* yourself

sorry for the harsh words

takut

mau dengar sesuatu yang sungguhan?


saya takut tidak bisa bertahan di Bandung. ini sungguhan, saya tidak main-main... saya tidak bisa bernapas lega sejak kemarin, ada yang mengganjal, dan itu adalah rasa takut yang belum luruh. saya benar-benar hancur beberapa hari terakhir ini. kehilangan banyak hal. sepertinya.

realistis... legowo...

rasanya sudah lama tidak bicara... ngobrol, dalam satu tatap muka.

lama sekali...
hampir dalam waktu panjang itu saya kehilangan kesempatan untuk bercerita.
sangat banyak cerita yang terlewat, yang mungkin dia lewatkan, yang juga saya lewatkan.
terlalu banyak...
terlalu panjang...
terlalu... saya rindu semua esensi itu
ketika saya merasa ada seseorang yang mendengarkan, ada seseorang yang paham, ketika ada seseorang yang memperingan usaha saya untuk menenangkan diri sendiri dan berhenti melukai diri dalam elegi kesedihan, seperti ingin bunuh diri.

redakan semua esensi itu, sadar, sekarang saya sudah hampir sedemikian jauh dari keadaan nyaman itu. sudah terpelanting sekeras ini, dan rasanya sulit untuk menerima semua dengan legowo...
waktu-waktu kemarin sia-sia.
saya harus realistis

ternyata menjadi realistis lebih sulit daripada menjadi legowo

apa bedanya realistis dan legowo?
beda... jauh berbeda...
dan saya belum bisa melakukan keduanya.

demi.

demi udara yang memenuhi paru-paru saya,

saya membutuhkan kamu lebih dari yang saya tahu.

melankolis? saya tidak peduli, setiap manusia punya saat untuk menjadi melankolis dan lemah, tidak ada manusia yang kuat setiap waktu. iya kan?


YA saya resmi menjadi 'tahanan rumah' sementara...
SELAMAT.
THROW A CONFETTI!!!
-_____-"

saya takut.

kemarin saya sempat jalan ke Bandung (lagi) dan besok sabtu saya kesana (lagi) untuk tes unpar. semangat saya harus tetap tinggi kalau mau diterima. tapi rasanya menahan semangat setinggi kemarin agak susah untuk saat ini.

saya sudah di luar sekolah hampir seminggu lebih. meninggalkan hampir semua aktivitas rutin selama itu juga. dan membuat rutinitas baru, yang (agaknya) sedikit menyebalkan karena saya harus selalu bangun lebih pagi dan ikut pelajaran yang materinya tiga kali lipat lebih sulit, jauh lebih sulit. ya, saya ambil intensif untuk SNMPTN. karena jujur saya tidak berharap lebih di SNMPTN undangan.

intinya begini. SNMPTN undangan itu seleksi nasional. saingan saya, ya katakanlah begini, adalah anak-anak muda terpilih di SELURUH Indonesia. bisa dibayangkan... serius, silakan dibayangkan. saya bergidik sendiri setiap kali sadar bahwa yang memperebutkan kursi yang saya ingini itu bukan cuma ratusan, ribuan, parahnya... jutaan. sialnya begitu. iya sebanyak itu.
kalau dimisalkan... saya ini hanya debu, di padang pasir... yang diterpa badai.
pasir itu kecil. apa lagi debu?
lapangan sepak bola itu luas. apa lagi padang pasir?
angin semilir saja sudah sanggup menerbangkan dedaunan kering. apalagi badai besar?
remuk iya.
belum tentu saya bisa bertahan.
saya bukannya pesimis, hanya tidak ingin berharap terlalu banyak. berharap terlalu jauh untuk apa yang kita ingini tidak selalu baik. kalau akhir ceritanya bukan seperti yang ada dalam fragmen imaji kita, apa jadinya nanti? lebih dari sekadar sakit. lebih sakit dari sakit.

saya tidak ingin mempunyai rasa sesak yang berlebih itu, bukan karena saya takut, saya hanya mengantisipasi.
toh kalau memang jalan saya disana... saya akan kesana. akhirnya selalu lari ke arah sini, kan?

percuma menjalani sesuatu yang bukan jalannya. seperti memaksakan diri.
dan saya tidak ingin memaksakan diri dan kehendak saya.
karena tidak setiap kemauan dan kehendak kita adalah apa yang semestinya terjadi.
manusia harus belajar menerima itu, karena dalam setiap keputusan akan ada dua persepsi,
benar dan salah.
dan dalam tiap benar salah, akan ada dua persepsi lain
persepsi manusia
dan persepsi Tuhan.
sekarang siapa yang rela disalahkan?

ada yang bisa mengatasi ketakutan saya?
saya bukan galau. sumpah saya takut. takut tidak diterima dan takut menempuh jalan yang salah.
beda kan (?)

saya berhenti menulis.

saya ingin berhenti menulis. hanya itu yang lewat.

saya ingin berhenti menulis, memperingan fragmen fantasi yang harus saya susun. entah kenapa. dan entah sampai kapan saya akan ada dalam fase berhenti seperti sekarang.

saya ingin berhenti berusaha, berhenti bermimpi. kadang bermimpi terlalu lama itu lelah rasanya.


Jenni Willian, maaf saya harus menunda semua script yang saya janjikan, mungkin filmnya juga harus ditunda.


Pak Sulis, saya tidak yakin saran bapak supaya setelah lulus nanti saya konsentrasi menjadi penulis, atau paling tidak setelah kuliah selesai saya melanjutkan minat dan niat saya di bidang literatur apakah benar akan terwujud, saya ragu-ragu. saya kehilangan alasan. kehilangan appetite, katakanlah begitu.


Mbak Vinta, terimakasih kamu sudah mengejar saya ke seluruh penjuru rumah hanya untuk membuat saya menunjukkan satu tulisan saya. saya harus berhenti membuatnya sekarang, entah kenapa. rasanya lelah, tahu kan? ya mungkin saya hanya lelah. fase ini masih panjang rasanya, seperti beruang yang baru saja memulai hibernasi. masih ada setengah tahun... lebih. ya mungkin.


Bram, terimakasih untuk semua gangguannya selama aku di depan laptop. kamu tidak bisa mengganggu aku lagi, adikku sayang... aku berhenti. tadaaaaa


ibel, christy, ajeng, ninda, semuanya... maaf ya, sampai saya berhenti pun kalian belum sedikitpun pernah membaca apa yang saya tulis. mudah-mudahan kalian memang tidak keberatan. maaf.


Nina, terimakasih sudah mau membaca. entah penghargaan macam apa yang kamu berikan, saya hanya tidak yakin apa yang saya buat adalah yang semestinya saya buat. mengerti tidak? intinya saya merasa dunia saya bukan di sini. bukan untuk menulis, bukan untuk dipuji orang karena tulisan saya, mungkin karena hal lain. saya ragu-ragu, lagi-lagi... tidak yakin ingin menulis. mungkin memang ini saatnya berhenti.


pihak yang tidak saya ingin sebutkan namanya, terimakasih untuk inspirasi yang priceless. tapi saya berhenti seperti kamu yang kadang lelah memberi saya inspirasi. saya berhenti, seperti halnya kamu yang mulai berhenti.


pada titik ini, saya merasa jijik membaca tulisan-tulisan saya sebelumnya. kenapa? entahlah, saya juga tidak tahu.


dan saya tidak tahu harus meninggalkan kata-kata untuk siapa lagi. mungkin sampai mereka dulu. terimakasih.

saya berhenti menulis. entah kenapa ini begitu penting, padahal saya bukan siapa-siapa. bukan apa-apa, iya kan?

hah. lucunya. retoris.


saatnya saya berpamitan pada ms word, saya tidak akan memacarinya lagi sampai tengah malam...

pencarian berakhir disini. mungkin sudah saatnya saya berhenti menjelajahi dunia yang ini. sudah saatnya berhenti menulis ini itu.


*kalau anak lain pamitan sama twitter (di-Deactivated) gue pamitan sama ms word... kurang tolol apa hayo? -_____-” *

BOLD!

hey, look, I was just trying to be nice.

if you don't want it, then lets just consider you don't deserve it, so I shouldn't pretend to be nice anymore.

that's life okay, when you want it, say it
when you don't, say it out loud...
so simple. so easy.

p.s. you don't deserve it by the way. yeah, for sure. I was pretending...
mean, eh? yeah, whatever. it's just you anyway...

and the truth is, I was just trying to be bold.
bisous. mwack!

17 April, sialnya.

ini sudah tanggal 17.

bulan April.
sialnya.
besok tanggal 18 April.
berarti besok ujian.
UAN.
untungnya, setelah itu, masa SMA di Santa Ursula selesai.
sialnya,
tiga tahun kemarin hanya ditentukan dalam empat hari.
dengan enam mata pelajaran.
yang tidak semuanya saya kuasai.
ya, sialnya...

p.s. sayangnya, lebih banyak sial dari pada untungnya.
ah siakek.
too bad.

bukan berusaha menggurui. kalau memang cara saya membuat kamu merasa lebih baik itu salah, beri tahu saya. saya tidak paham betul apa yang mestinya saya lakukan. ini hanya berdasarkan insting, ya mungkin insting saya salah. dan memang biasanya salah. mungkin kali ini juga.


maaf. saya belum bisa membuat kamu merasa lebih baik.
jujur, saya merasa sangat buruk,
bukan teman yang baik.
katakanlah begitu.
ucapkan saja, saya terima.
apa adanya, mungkin memang saya yang terlalu banyak menuntut.


maaf. saya hanya berusaha.

bersama greenlite (:

ini percakapan sehari-hari yang terjadi di ruang band:


"eh, Jack gue mana?"
"loh? Jack lo yang mana?" (gue tanya dengan nada sok panik)
"itu yang..." (tidak berlanjut)
"ehm, tapi bukannya semua jack kita sama ya?" (gue bikin statement sendiri)
"terus kenapa tanya, kak?" (merasa sama-sama tolol)
"nggak... iseng doang, biar rame" (manda jawab sambil melengos)

woy jangan senggol-senggol kabel gue. mati kan roland nya (feby dan nina, super nggak nyantai)

Om, ampli bass ku mati lagi (erin dengan tampang innocent nya)

duh kak nina, aku main apa nih? bingung... (high pitch)
lo yang kemaren aja, feb... (datar)
terus kak nina?
gue yang ngasih karpet (seperti biasa, nyari yang gampang)

be, ini jogetnya kanan dulu apa kiri dulu?
kanan dulu deh kayanya (masih santai)
oke... (dan vokalis mulai joget)
ehm mand... kanan, bukan kiri
oh tadi itu kiri, ya? maaf (merasa tolol)

DIH, SIAPA YANG BERANTAKIN RUANG BAND? (nina dengan nada abang-abang)
bukan gue (gue jawab sekenanya, terus kabur jauh-jauh dari nina)

om... kemarin itu pattern drumnya kaya gimana ya? aku lupa (icha dengan tampang sok cool minta digaplok)

vokalis... nyanyi pakai microphone dong...
hehe... bentar om, latian dulu (alibi)

SMUKI:

vokalis masih terlalu emosional... tapi overall, bagus. (om alpha, dan ini sangat membesarkan hati)

duh, masuk final gak ya? (selama perjalanan pulang dari smuki)

duh gimana caranya kita nyampe jakarta dan latian? kita masih retret ini... (gue, icha, dan nina yang masih di rumah retret sehari sebelum final)

gue capek, pengen tidur
jangan tidur! ntar suara lo gak panas lagi. (nina melarang vokalis mati-matian)

tetep sok asik ya di panggung! (di mobil, menjelang final)

anjrit, panggung nya gede banget!

mand, katanya kita juara tiga
tau dari mana?
twitter...
errrr

dan ternyata kami benar-benar juara tiga... (sharing retret di kelas... pengalaman ini yang bikin gue bangga banget cerita soal smuki)

selama di punakawan:

ayo ambil sofa duluan biar bisa tidur (biasanya feby)

makan siangnya mana? (semua kompakan)

woy ayo pake foundation dulu... ntar lagi pake make-up

eh udah rata belom fonde gue?
leher lo kagak lo kasih ye?

nina aku kedinginan... (sisi, biasa, kaya anak kecil unyu nempel sana sini... (: hehe)

maaf ya, baju gue bau lemari rumah sakit, jadi gue ganti kostum lagi (hari kedua)
maaf, baju gue yang kemarin bau keringet, jadi ganti lagi (hari H)

beberapa hari sebelum manggung:

besok pake kostum apa?

be, high heels flat?

vokalis jangan lupa bawa make up dan aksesoris!

latian lagi kapan?

hari H pas manggung:

Vokalis joget! gak joget awas lo ye... (gue yang paling sering bilang begini...)

sok asik ya...

duh gue deg degan

duh cepetan naik kek, ntar aku keburu lupa nih (sisi sambil bawa stik drum di kedua tangan)


terakhir, yang selalu diteriakkan sebelum dan setelah naik ke panggung:

GREENLITE... *TING

SUMPAH DEMI TUHAN! gue kangen manggung sama greenlite
gue kangen Greenlite!
kapan kita manggung lagi seperti dahulu?

dan om alpha pernah bilang setelah smuki:
doa jangan di bibir aja, tapi di hati juga...
kalian ini udah keturunan juara...
kalian ini band... jangan grogi, panggung itu rumah kalian.

yeah, Stage is our home..
and I want it back. now.

GREENLITE... gue kangen banget sama kalian. semua percakapan di atas yang bikin gue super kangen sama kalian

SISI, ICHA, ERIN, ABE, NINA, DANIA, ANGGRA, YOSHI, REGINA, NARISSA, STACEY, JENTIKS.
gue kangen kalian semuaaaa (:

GREENLITE? *TING
(:

need some sleep

demi Tuhan saya lelah. sumpah.

hari ini, di papan tulis kelas saya tertulis:

55 hari
Menuju kebebasan!

lima puluh lima. singkat. kurang dari dua bulan. kurang dari sekali tarikan napas panjang. tapi rasanya jauh lebih panjang dari setahun masa belajar. saya lelah diberi tugas. saya lelah dijejali materi ekonomi, geografi, matematika, sosiologi, bahasa indonesia, bahkan bahasa inggris sekalipun.
saya lelah. tapi tidak boleh begini. mestinya tidak begini. tapi saya sudah lelah menghitamkan lingkaran kecil di atas lembar jawaban. saya lelah berpikir mana yang di atas? graben atau horst, mana yang disebut kebijakan fiskal mana yang moneter? berapakah x atau berapakah y? yang mana sosialisasi sempurna dan yang mana sub kebudayaan? di bagiamana terdapat kalimat utama dan di baris mana ada kalimat penjelas? atau karangan dalam bahasa asing ini ditujukan untuk Mr ini atau Mr itu? apa bahasa Perancis dari dia menggunakan dasi berwarna merah?...
HEI! Demi Tuhan, Saya lelah!

saya hanya butuh waktu bernafas, diam, beberapa jam. itu saja. sesak rasanya harus berlari kesana kemari untuk mengejar waktu yang egois dan tidak pernah mau mundur barang sedetik saja.

saya hanya punya 7 hari dalam seminggu dan 24 jam dalam sehari. saya punya 60 detik dalam semenit. hanya itu yang saya punya. boleh saya minta beberapa jam saja untuk tidur denagn tenang tanpa harus berpikir apa besok ada tugas? atau tes macam apa yang saya hadapi besok?

kesannya memang saya menyerah, tapi tidak. jujur, saya hanya butuh waktu istirahat. jangan terlalu pelit, sekali ini saja.
kadang kedisiplinan tidak harus dicapai dengan penerapan keteraturan macam ini, membuat kami berpikir setiap waktu. bahkan jam dinding pun memilki waktu istirahat ketika kehabisan daya. bagaimana dengan saya? saya ini manusia, bukan jam dinding.

kadang berada di ruang hampa dan kedap suara terasa jauh lebih baik dari berputar di dalam labirin yang saya tahu dimana akhirnya, namun butuh lima puluhan hari untuk menyelesaikannya. harus dalam tempo itu. tidak lebih tidak kurang. sesak rasanya. tapi saya harus tahan. itu kan yang mestinya saya lakukan?
bertahan meskipun saya harus berlelehan keringat sekalipun.

toh alasannya satu: semua ada waktunya, kalian akan bahagia dan merindukan waktu-waktu ini setelah kalian selesai. kalian akan merindukan labirin hijau yang kalian tempuh bersama ini, semua kesulitannya, tekanannya...

ya, terserah lah. saya hanya ingin waktu istirahat supaya saya tidak perlu menjalani semua ini dengan tekanan yang hanya akan memperburuk keadaan. terimakasih.


and the truth is,
I need some rest and sleep between these restless night.
got it?

manusia tolol

dunia ini sempit. sempit sekali.

rasanya seperti gang senggol. belok sedikit, ketemu di perempatan sana, kalau geser sedikit, berpunggungan dengan teman sendiri.
sayangnya, dunia tidak bisa diperluas, tapi isinya mungkin bisa berkurang... maksud saya, ya manusianya.
tapi saya tidak rela kalau yang dikurangi itu adalah orang-orang dekat saya.
egois ya?
ya, kira-kira beginilah manusia.
selalu ingin hal ini itu terjadi pada manusia lain, menyumpahi mati-matian.
tapi kalau sumpahnya berbalik... mereka mulai menghujat Tuhan.
intinya... bagi manusia, mereka tidak pernah salah. selalu mendahulukan ego ketimbang rasio dan akal, bahkan rasa.
ya, manusia tolol.


eh, kenapa saya malah membuat postingan baru?
tolol. mestinya saya belajar.
-___-"
maaf. buku-buku pelajaran mendelik ke arah saya sekarang. saya harus kembali pada mereka.

Dear, Vinta

Buang saja waktu. Jika memang itu yang mestinya dilakukan. Saya lelah dipersalahkan terus. Dilelehkan paksa seperti mentega di atas tungku, melumer kembali pada api yang menghabisinya.

Detiki saja jam itu jika kamu mau. Saya bosan dicerca setiap kali kamu mencari celah jalan keluar dan kembali menyalahkan saya.

Rusak saja semua batasan itu. Batasan salah benar. Buruk baik. Tidur bangun. Buat saya merengkuh kembali kakimu, memohon supaya kiamu tidak menyerang saya dengan kata-katamu yang terlalu menyakitkan itu.

Salah jika saya membela diri? Ya, untuk kamu, saya selalu salah. Tidak pernah benar.

Dan kamu selalu benar. Seperti Tuhan. Yang mencipta semuanya, dan menjadikan segalanya baik.

Kamu dengan egoisme tingkat tinggi. Kamu yang dewasa. Hingga pada akhirnya selalu saya yang dicap anak kecil. Tolol. Bodoh. Pembuat masalah. Cengeng. Egois. Si pembuat salah. Si tersangka. Terdakwa. Yang mestinya dipenjara dengan rasa bersalah.

Bukankah kamu mestinya menjadi dia yang mengenal saya? Bukan menjadi dia yang hanya bisa menyerang saya, bersikap egois dan selalu memikirkan diri sendiri? Kapankah di dunia ini ada waktu untuk menyisipkan sedikit saja diri saya ini di dalam pikiran kamu? Ataukah hanya ada kamu, kamu, kamu, dan kamu saja di seluruh konstelasi dunia kamu?

Jangan marah. Saya hanya mencoba membela diri. Saya tidak eprnah punya kesempatan untuk ini di hadapan kamu. Kamu selalu benar, dan saya tidak pernah benar.

Sementara setiap kali saya terpuruk, hanya ada kamu di pikiran saya. Setiap saya bahagia, saya selalu berterima kasih pada kamu, datang padamu, mengucap kasih yang belum pernah setulus itu saya ucap kecuali pada orang tua dan kamu. Saya sadar kamu satu-satunya bahu yang sempurna untuk tempat bersandar. Yang selalu bisa mendengar kapanpun saya mau. Yang selalu ada di rumah setiap sore, siap mendengarkan saya di dalam kamarmu, walaupun saya tahu, kamu sibuk setengah mati.

Saya tangisi kebaikanmu. memuji kamu mati-matian, seolah kamu dewi terbaik yang diturunkan langit untuk saya, untuk menemani saya, menikmati semua ini dengan cara baik-baik saja. Merasa tidak perlu dipersalahkan, ataupun berbuat salah.

Tahukah kamu, hari-hari terakhir ini saya sering mendekati kamu, mengajak kamu bicara, di tengah semua kelelahan dan kesibukan saya, setidaknya melambaikan tangan ketika kamu keluar dari kamar, walaupun jarak kita kurang dari satu meter.

Sadarkah kamu, saya selalu memasang senyum terlebar saya setiap kali kamu keluar dari ruangan kecil milik kamu di rumah ini, dalam hati saya bicara, akhirnya dia keluar.

Tidakkah kamu sadar juga? Di tengah semua kesesakan sekolah yang dirunut terus menerus setiap hari saya selalu berusaha datang pada kamu? Bukan untuk meringankan beban saya sendiri. Saya sudah punya orang lain untuk bicara, dia selalu ada kapanpun saya butuh. Tiap pagi. Siang. Sore, tapi tidak, dia tidak bisa menggantikan kamu. Saya pernah cerita soal dia.

Saya tersenyum lebar, melambaikan tangan, mencoba mendekati kamu, kadang mengatakan sesuatu yang mengesalkan kamu, bercanda walau kadang berlebihan dan membuatmu kesal, sampai suatu hari saya bicara, meminta kamu melepaskan pakaian yang kamu pinjam dari saya dengan alasan saya pakai baju itu sabtu ini, dan kamu marah, karena saya mengatakannya di depan pacar kamu. Ini salah persepsi. Kamu harus tahu. Tidak ada tujuan saya untuk mempermalukan kamu, tidak pula saya ingin pamrih dan tidak tulus meminjamkan pakaian itu pada kamu. Saya hanya ingin mengajak kamu bicara.

Sumpah, saya hanya mencoba untuk mencuri perhatian kamu, beberapa detik saja lewat pertengkaran itu. Karena malam itu saya sudah lelah, tidak sanggup lagi berkelakar.

Sumpah, saya hanya merindukan kamu. Saya terlalu sibuk, kamu tidak pernah keluar kamar untuk sekadar bicara. Kamu sibuk dengan bbm ketika saya tidak sibuk. Dan saya selalu sibuk, bahkan ketika kita berdua sama-sama sibuk.

Kita tidak punya waktu banyak untuk sekadar bercerita. Berbincang. Atau tiduran di kamar sampai larut malam. Saya rindu semua waktu itu.

Tapi ketika sekarang saya habiskan semuanya dengan bertengkar dengan kamu, meskipun masalahnya sederhana, hanya karena masalah pakaian, saya harus menangis di depan laptop karena tidak tahu harus bicara pada siapa soal beban yang saya tumpuk selama ini. Saya sedang perang dingin dengan kamu, kakak saya sendiri. Tempat sampah termahal di dunia. Saya menyesal. Sungguh menyesal

Tapi sepertinya kamu terlanjur marah. Entah apapun itu alasannya.

Hari ini saya sedih. Tersesat. Bingung. Sesak napas. Kamu tahu?

Oh tentu saja tidak. Kamu tidak mendengarkan apa-apa dari saya. Kita baru saja bertengkar, beberapa menit yang lalu. Lagi.

Kamu ungkit masalah waktu itu. Padahal saya sudah hampir lupa.

Saya rasa suatu hari saya harus belajar untuk tidak membutuhkan kamu.

Dan saya tahu,

Faktanya,

Saya tidak bisa. Belum bisa. Belum sanggup.

Saya masih butuh kamu, kakak perempuan saya, di sisi saya. Entah sampai kapan.

As if you remember that old time

when I called you “mbak vinta”

And you answered me “apa?”

Then I said “main, yuk?”

See, I was just trying to play with you. To spend more time with you. And that’s it.

I want to play with you. To spend more sisters time. To talk more, and less on the fighting stuff…

I miss you my dearest sister. Even I know we have only these couples of meters far to each other’s room.

But we have this little time to talk as we used to, remember?

In fact, we have this much time to have a fight, or more.

Funny isn’t it? Don’t you think so?

They came up with dear, John. So I came with a letter for you,

Dear, Vinta


I love you, sis

When will we make things up?

I’m scared now.

Greenlite, maaf.

saya tidak sedang labil, apalagi galau.

saya sedang merasa bersalah, tolol, egois.
saya perlu teman bicara. jujur itu saja yang saya butuh sekarang.
saya butuh sahabat untuk berlari bersama menembus sesak yang luar biasa lalu menolong saya melepaskannya di langit.
butuh seseorang untuk merangkak perlahan bersama saya, menggenggam bersama marah yang ditujukan pada saya, lalu membuangnya seperti ampas teh.
saya sedang butuh dipeluk.
maaf. saya hanya tidak ingin sendiri.


Greenlite, maafkan saya yang sudah begitu egois hari ini. saya tidak berusaha untuk membela diri. memang semua salah ada pada saya yang tidak memberi tahu sejak awal soal perjanjian yang saya buat dengan kedua orang tua saya. perjanjian yang mengikat saya setengah mati malam ini. ditahan sepihak untuk memenuhi tenggat waktu yang tidak bisa diingkar semudah mengingkar logika tolol malam sebelumnya.
sini, saya ceritakan rincian perjanjiannya
malam sebelumnya saya meminta izin, pergi rekaman untuk greenlite di studio yang jauh dari rumah. poinnya saya mendapatkan izin, dengan syarat-syarat tertentu.

saya harus pulang paling lambat pukul 7 malam. tepat. atau semua izin saya untuk pergi latihan, pulang sore, pergi kemanapun itu, semuanya akan dipersempit. terlebih izin untuk latihan band, kemungkinan besar saya akan dilarang mutlak, sampai saya kuliah, tidak bisa lagi menyentuh ruang band, ikut latihan di bigguns, naik ke panggung gradnite sekalipun. secara eksplisit dan implisit semuanya dijanjikan. dan saya terikat mati. izin malam ini dan malam sebelumnya lebih dari sekadar berharga. dan itu hanya terjadi dua kali untuk waktu-waktu ini, tidak akan mungkin terjadi lagi jika saya membatalkan janji secara sepihak dengan mengingkarinya tanpa pertimbangan.
maaf, untuk inilah saya harus nekad pulang ke rumah, bahkan sebelum saya sempat take vokal. saya lempar waktu 5 jam yang saya habiskan untuk menunggu bersama dengan kalian semua untuk pulang ke rumah dengan kesan menyelamatkan diri dari kemarahan kedua orang tua.
saya bersumpah, saya tidak sedang membela diri.
saya bersumpah pikiran saya tidak sepicik itu.
saya bersumpah, apa yang saya katakan di dalam studio tadi, soal saya ketakutan, itu benar.
saya bersumpah ada pertimbangan yang lebih soal mengambil keputusan ini, lebih dari sekadar menghindar dari amarah, walaupun di sisi lain saya tahu tidak mudah bagi kalian untuk menerima kepulangan saya yang seenaknya dan tiba-tiba. kalian juga menunggu untuk waktu yang sama panjangnya, dengan pengorbanan waktu yang sama-sama tidak sedikit, bahkan lebih banyak energi yang terbuang ketimbang saya yang tidak berbuat apa-apa selama disana. tapi sumpah, saya paham betul konsekuensinya, dan saya tidak mau berjudi dengan kesempatan yang sudah pasti terjadi. saya tidak ingin jauh dari grenlite untuk jangka panjang, pada batas waktu yang belum ditentukan akhirnya.

tidak bertemu greenlite dalam latihan rutin di studio atau sekadar pulang sore untuk bicara panjang lebar di ruang band sudah lebih dari cukup untuk membuat saya mempertimbangkan ulang pilihan untuk tetap pulang atau membuang kemungkinan yang akan terjadi di depan sana bersama kalian. dan tidak ikut gila bersama kalian di panggung terakhir greenlite angkatan ini pada saat gradnite sudah membuat saya tidak ragu untuk mengambil keputusan pergi dan sampai di rumah sebelum pukul 7. meskipun saya belum mengambil take dan meninggalkan kalian dengan kesan penuh egoisme dan rasa takut.
jika itu yang kalian tangkap, silakan. bukan salah persepsi kalian. memang itu yang mestinya ditangkap.

sayangnya walaupun saya sudah berhati-hati, dan walaupun saya sudah tidak ingin membatalkannya, janji itu tetap saja rusak. saya yang merusaknya, entah sengaja ataupun tidak. mungkin karena perkiraan yang salah dan perhitungan yang kurang sempurna.
saya tiba di rumah pukul 7 lebih lima belas menit.
sesak ya? iya. saya keluarkan uang 55000 untuk membuat sopir taksi ngebut menembus macet, tidak ada efek signifikan. saya tetap terlambat. 15 menit.
saya mengendap perlahan, lalu menemukan wajah bapak saya. lelah dengan ketidakdisiplinan. saya hampir tahu konsekuensinya.
saya tinggal terima kata "tidak" dalam permintaan izin berikutnya, tanpa ada pemikiran ulang.
maaf, saya gagal, meskipun saya sudah dengan tololnya membuang kesempatan take rekaman terakhir saya bersama greenlite.
tapi saya bersumpah, semua ini tadinya saya lakukan untuk mendapat izin di kemudian hari, untuk tidak menjauh dari greenlite barang sejengkal hanya karena terlambat pulang ke rumah. maaf. saya gagal.
jika kalian merasa hal ini tidak maklum, tak apa. saya terima dimarahi. oleh Nina, Riska, Sisi, Erin, Anggra, Dania, atau feby sekalipun. kalian semua ada di sana ketika saya tiba-tiba pergi dan pulang tanpa izin. saya akan lebih menghargai semua reaksi emosi yang mempersalahkan saya ketimbang berpura-pura tidak ada apa-apa atau hanya diam tanpa respon.
maafkan saya Greenlite
sumpah saya sayang kalian,
klisenya semua ini saya lakukan karena rasa sayang itu,
tololnya cara saya salah,
gilanya saya masih saja gagal.
saya sudah lelah menangis di dalam taksi tepat setelah panggilan saya tidak dijawab oleh nina yang terus berjalan masuk ke dalam studio diikuti riska setelah menemani saya menunggu taksi. sampai sopir itu bertanya kenapa saya menangis, saya jawab tidak apa.
saya menangis karena takut, takut yang lebih dari memuncak. lebih dari sekadar klimaks cerita.
dan lebih lagi, sebenarnya, saya menangis karena merasa bersalah, tolol karena mengambil keputusan untuk pulang, dan menangis karena merasa pasti akan gagal.
gagal untuk tetap bersama greenlite, dan gagal menepati janji.
maaf.

dan faktanya
saya benar-benar menyayangi kalian, untuk apapun itu.
maaf jika rencana saya untuk meninggalkan kalian demi bisa ada bersama kalian lagi di bulan-bulan kedepan ini gagal.
jujur, ini serius. saya tidak sedang melebih-lebihkan apapun.
peraturan sudah turun, sudah diambil. tidak bisa ditarik, apalagi keputusan itu benar-benar diambil bapak saya.
saya serius.
apa ini waktu yang benar ketika mestinya saya berkata selamat tinggal?
saya enggan. belum mau.
tapi apa boleh dikata... (?)

perjanjian:
pulang selambat-lambatnya pukul 7 malam hari ini atau tidak ada lagi latihan band, manggung, pergi ke acara-acara tidak penting. pulang sore hanya ketika ada pelajaran tambahan, sisanya tidak boleh terlalu sore, pulang tepat waktu. kali ini serius, tidak akan ditarik, dengan alasan saya sudah kelas duabelas, harus belajar konsisten dan disiplin waktu pada diri sendiri. sudah mau ujian, dan keputusan ini (katanya) akan sangat menguntungkan saya. -ya dan menyiksa saya perlahan-

sedikit alogikal

dia sudah tiga puluh dua, saya baru tujuhbelas.

itu berarti dia angkatan 70an, dan saya angkatan 90an.

tepatnya 72 dan 93.

dia sudah 9x lebih dewasa, dan saya belum sama sekali.

dia sepertinya sudah paham hidup, saya baru belajar berjalan.

ketika dia sudah legal, saya masih ilegal bagi negara.

ketika dia sudah bicara, saya sibuk merengek minta susu.


tapi saya tidak bisa menggerataki nasib. jadi, ya, terima saja apa jadinya nanti. apa frasanya akan berakhir dengan kata 'dengan' atau 'bukan dengan'… saya tidak boleh menolak, walaupun saya bisa melakukannya, karena saya tahu apa yang saya mau, dan siapa atau arah mana yang ingin saya tuju (yang untuk saat ini masih berputar pada usaha untuk menyetarakan diri dan isi pikiran dengan pria macam dia,

mungkin arus bertransformasi menjadi manusia 70an di tahun 2000an, atau mungkin berusaha untuk melipat gandakan kedewasaan menjadi setidaknya 5x lipat)


saya bingung, banyak yang bertanya apa saya sudah gila karena menggilai pria macam dia, bagi saya, menjadi gila macam ini adalah sebuah keuntungan.

ya, untungnya saya masih cukup sinting. sebenarnya saya mestinya lebih sinting dari ini, itupun jika saya sekadar ingin bertemu dengan dia. tekankan: hanya untuk bertemu dengan dia, ya, biasa, ada faktor internal yang membuat peraturan menjadi lebih rumit. lagipula dia bukan tipikal pria yang bisa ditemukan dengan mudah seusai konser di belakang panggung. kalau perlu, saya akan melamar menjadi adminnya jika memang itu yang dibutuhkan.


saya lakukan itu, kalau memang harus.

ini agak alogikal, ya, memang.

tapi alogikal adalah saya. maaf, harap diterima apa adanya.


P.S. Mas, saya tunggu di Jogja bulan Juli ini, ya. sampai Jumpa bulan Juli… (:


saya sebenarnya risih untuk menuliskan yang dibawah ini, tapi ya, daripada saya tulis hugs and kisses? sepertinya kata ini lebih keren, ya setidaknya kesannya begitu:


Bisous, monsieur!

saya tunggu di Jogja Juli ini.


dan faktanya,

saya tahu ini alogikal,

ya seperti apapun akhirnya,

rencana ini tetap alogikal untuk perempuan macam saya.

Pertanyaan kepada Tuhan

kadang kita tidak tahu peraturan Tuhan.

kadang kita tidak paham apa mau Tuhan.

kadang kita tersesat selama itu.

kadang kita tidak paham akhirnya.

kadang kita tahu kenapa akhirnya begitu

kadang kita mengerti, itu kesalahan yang kita buat.

kadang pula kita tidak juga mau mengerti.

Kadang peraturan Tuhan memang tidak adil.

itu semua karena kita tidak paham.

dan tidak pernah akan paham

itu saja intinya.


Tuhan, ini pertanyaan saya:

dari mana saya, hambaMu yang tolol ini, tahu bahwa ini adalah jalan yang benar,

jalan yang memang untuk saya. bukan jalan tempat saya tersesat, atau justru hasil ketersesatan saya?

beritahu saya, saya tidak ingin tersesat. masa depan saya masih jauh, terlalu jauh untuk dihabiskan dalam ketersesatan. tolong, tolonglah saya. saya ketakutan.

saya ketakutan, bahkan dalam doa saya sendiri.

saya menangis, bahkan dalam mimpi saya sendiri.

saya meringkuk, bahkan dalam dunia yang sesemu ini.

saya ketakutan, menangis, meringkuk. dan tidak tahu harus berbuat apa.

apakah ini berarti saya tersesat? sudah tersesat? begitukah?

saya terlalu buta untuk melihat jalur itu, tolonglah, saya belum mampu, tidak, saya justru tidak pahami rencana ini kemana semua jalur ini akan mengarah? dan dimana akan berakhir...

jadi, maukah Engkau menjawabnya?


dan faktanya, Tuhan, aku masih belum paham.

Diberdayakan oleh Blogger.

Search This Blog

press PLAY!

other posts...

want to know something?

Foto Saya
Bernadetha Amanda
I know English, a little French, and I do speak Ngoko and a few Krama (Javanese language has three kinds of hierarchical language, they're two of them) at home, well, mostly. I'm a big fan of Javanese literature, traditional art, music, theatrical performances, and books but I got this lack of time and chance to do all that stuff... yeah THROW A CONFETTI. (and yeah, feel free to drop some comments... BISOUS :*)
Lihat profil lengkapku

now, count!

free hit counter

followers

Pages