Selasa, 00.00
betapa dunia memiliki batas, seperti imaji yang dilepas.
Rabu, Agustus 24, 2011 | Label: and the truth is... | 0 Comments
cukup.
Tidak ada yang tahu. tidak banyak yang tahu. dan rasanya tidak perlu ada yang tahu. tentang saya dan kamu. dan tentang apa adanya sekarang.
Sabtu, Agustus 20, 2011 | Label: and the truth is... | 0 Comments
saya egois, ya saya tahu.
saya salah kalau terlalu egois.
Senin, Juli 18, 2011 | Label: and the truth is... | 0 Comments
harsh. IDC.
ini bukan masalah siapa saya, siapa kamu, siapa dia, siapa mereka.
Minggu, Mei 29, 2011 | Label: and the truth is... | 0 Comments
takut
mau dengar sesuatu yang sungguhan?
Rabu, Mei 18, 2011 | Label: and the truth is..., normalmode | 0 Comments
realistis... legowo...
rasanya sudah lama tidak bicara... ngobrol, dalam satu tatap muka.
Rabu, Mei 18, 2011 | Label: and the truth is..., friend, sudden | 0 Comments
demi.
demi udara yang memenuhi paru-paru saya,
Rabu, Mei 18, 2011 | Label: and the truth is... | 0 Comments
YA saya resmi menjadi 'tahanan rumah' sementara...
SELAMAT.
THROW A CONFETTI!!!
-_____-"
Senin, Mei 09, 2011 | Label: and the truth is... | 0 Comments
saya takut.
kemarin saya sempat jalan ke Bandung (lagi) dan besok sabtu saya kesana (lagi) untuk tes unpar. semangat saya harus tetap tinggi kalau mau diterima. tapi rasanya menahan semangat setinggi kemarin agak susah untuk saat ini.
Kamis, Mei 05, 2011 | Label: and the truth is... | 0 Comments
saya berhenti menulis.
saya ingin berhenti menulis. hanya itu yang lewat.
saya ingin berhenti menulis, memperingan fragmen fantasi yang harus saya susun. entah kenapa. dan entah sampai kapan saya akan ada dalam fase berhenti seperti sekarang.
saya ingin berhenti berusaha, berhenti bermimpi. kadang bermimpi terlalu lama itu lelah rasanya.
Jenni Willian, maaf saya harus menunda semua script yang saya janjikan, mungkin filmnya juga harus ditunda.
Pak Sulis, saya tidak yakin saran bapak supaya setelah lulus nanti saya konsentrasi menjadi penulis, atau paling tidak setelah kuliah selesai saya melanjutkan minat dan niat saya di bidang literatur apakah benar akan terwujud, saya ragu-ragu. saya kehilangan alasan. kehilangan appetite, katakanlah begitu.
Mbak Vinta, terimakasih kamu sudah mengejar saya ke seluruh penjuru rumah hanya untuk membuat saya menunjukkan satu tulisan saya. saya harus berhenti membuatnya sekarang, entah kenapa. rasanya lelah, tahu kan? ya mungkin saya hanya lelah. fase ini masih panjang rasanya, seperti beruang yang baru saja memulai hibernasi. masih ada setengah tahun... lebih. ya mungkin.
Bram, terimakasih untuk semua gangguannya selama aku di depan laptop. kamu tidak bisa mengganggu aku lagi, adikku sayang... aku berhenti. tadaaaaa
ibel, christy, ajeng, ninda, semuanya... maaf ya, sampai saya berhenti pun kalian belum sedikitpun pernah membaca apa yang saya tulis. mudah-mudahan kalian memang tidak keberatan. maaf.
Nina, terimakasih sudah mau membaca. entah penghargaan macam apa yang kamu berikan, saya hanya tidak yakin apa yang saya buat adalah yang semestinya saya buat. mengerti tidak? intinya saya merasa dunia saya bukan di sini. bukan untuk menulis, bukan untuk dipuji orang karena tulisan saya, mungkin karena hal lain. saya ragu-ragu, lagi-lagi... tidak yakin ingin menulis. mungkin memang ini saatnya berhenti.
pihak yang tidak saya ingin sebutkan namanya, terimakasih untuk inspirasi yang priceless. tapi saya berhenti seperti kamu yang kadang lelah memberi saya inspirasi. saya berhenti, seperti halnya kamu yang mulai berhenti.
pada titik ini, saya merasa jijik membaca tulisan-tulisan saya sebelumnya. kenapa? entahlah, saya juga tidak tahu.
dan saya tidak tahu harus meninggalkan kata-kata untuk siapa lagi. mungkin sampai mereka dulu. terimakasih.
saya berhenti menulis. entah kenapa ini begitu penting, padahal saya bukan siapa-siapa. bukan apa-apa, iya kan?
hah. lucunya. retoris.
saatnya saya berpamitan pada ms word, saya tidak akan memacarinya lagi sampai tengah malam...
pencarian berakhir disini. mungkin sudah saatnya saya berhenti menjelajahi dunia yang ini. sudah saatnya berhenti menulis ini itu.
*kalau anak lain pamitan sama twitter (di-Deactivated) gue pamitan sama ms word... kurang tolol apa hayo? -_____-” *
Senin, April 18, 2011 | Label: and the truth is... | 0 Comments
BOLD!
hey, look, I was just trying to be nice.
Minggu, April 17, 2011 | Label: and the truth is... | 0 Comments
17 April, sialnya.
ini sudah tanggal 17.
Minggu, April 17, 2011 | Label: and the truth is..., nutCase | 0 Comments
bukan berusaha menggurui. kalau memang cara saya membuat kamu merasa lebih baik itu salah, beri tahu saya. saya tidak paham betul apa yang mestinya saya lakukan. ini hanya berdasarkan insting, ya mungkin insting saya salah. dan memang biasanya salah. mungkin kali ini juga.
Jumat, Maret 25, 2011 | Label: and the truth is... | 0 Comments
bersama greenlite (:
ini percakapan sehari-hari yang terjadi di ruang band:
Sabtu, Februari 26, 2011 | Label: and the truth is... | 0 Comments
need some sleep
demi Tuhan saya lelah. sumpah.
Jumat, Februari 25, 2011 | Label: and the truth is... | 0 Comments
manusia tolol
dunia ini sempit. sempit sekali.
Minggu, Februari 20, 2011 | Label: and the truth is..., sudden | 0 Comments
Dear, Vinta
Buang saja waktu. Jika memang itu yang mestinya dilakukan. Saya lelah dipersalahkan terus. Dilelehkan paksa seperti mentega di atas tungku, melumer kembali pada api yang menghabisinya.
Detiki saja jam itu jika kamu mau. Saya bosan dicerca setiap kali kamu mencari celah jalan keluar dan kembali menyalahkan saya.
Rusak saja semua batasan itu. Batasan salah benar. Buruk baik. Tidur bangun. Buat saya merengkuh kembali kakimu, memohon supaya kiamu tidak menyerang saya dengan kata-katamu yang terlalu menyakitkan itu.
Salah jika saya membela diri? Ya, untuk kamu, saya selalu salah. Tidak pernah benar.
Dan kamu selalu benar. Seperti Tuhan. Yang mencipta semuanya, dan menjadikan segalanya baik.
Kamu dengan egoisme tingkat tinggi. Kamu yang dewasa. Hingga pada akhirnya selalu saya yang dicap anak kecil. Tolol. Bodoh. Pembuat masalah. Cengeng. Egois. Si pembuat salah. Si tersangka. Terdakwa. Yang mestinya dipenjara dengan rasa bersalah.
Bukankah kamu mestinya menjadi dia yang mengenal saya? Bukan menjadi dia yang hanya bisa menyerang saya, bersikap egois dan selalu memikirkan diri sendiri? Kapankah di dunia ini ada waktu untuk menyisipkan sedikit saja diri saya ini di dalam pikiran kamu? Ataukah hanya ada kamu, kamu, kamu, dan kamu saja di seluruh konstelasi dunia kamu?
Jangan marah. Saya hanya mencoba membela diri. Saya tidak eprnah punya kesempatan untuk ini di hadapan kamu. Kamu selalu benar, dan saya tidak pernah benar.
Sementara setiap kali saya terpuruk, hanya ada kamu di pikiran saya. Setiap saya bahagia, saya selalu berterima kasih pada kamu, datang padamu, mengucap kasih yang belum pernah setulus itu saya ucap kecuali pada orang tua dan kamu. Saya sadar kamu satu-satunya bahu yang sempurna untuk tempat bersandar. Yang selalu bisa mendengar kapanpun saya mau. Yang selalu ada di rumah setiap sore, siap mendengarkan saya di dalam kamarmu, walaupun saya tahu, kamu sibuk setengah mati.
Saya tangisi kebaikanmu. memuji kamu mati-matian, seolah kamu dewi terbaik yang diturunkan langit untuk saya, untuk menemani saya, menikmati semua ini dengan cara baik-baik saja. Merasa tidak perlu dipersalahkan, ataupun berbuat salah.
Tahukah kamu, hari-hari terakhir ini saya sering mendekati kamu, mengajak kamu bicara, di tengah semua kelelahan dan kesibukan saya, setidaknya melambaikan tangan ketika kamu keluar dari kamar, walaupun jarak kita kurang dari satu meter.
Sadarkah kamu, saya selalu memasang senyum terlebar saya setiap kali kamu keluar dari ruangan kecil milik kamu di rumah ini, dalam hati saya bicara, akhirnya dia keluar.
Tidakkah kamu sadar juga? Di tengah semua kesesakan sekolah yang dirunut terus menerus setiap hari saya selalu berusaha datang pada kamu? Bukan untuk meringankan beban saya sendiri. Saya sudah punya orang lain untuk bicara, dia selalu ada kapanpun saya butuh. Tiap pagi. Siang. Sore, tapi tidak, dia tidak bisa menggantikan kamu. Saya pernah cerita soal dia.
Saya tersenyum lebar, melambaikan tangan, mencoba mendekati kamu, kadang mengatakan sesuatu yang mengesalkan kamu, bercanda walau kadang berlebihan dan membuatmu kesal, sampai suatu hari saya bicara, meminta kamu melepaskan pakaian yang kamu pinjam dari saya dengan alasan saya pakai baju itu sabtu ini, dan kamu marah, karena saya mengatakannya di depan pacar kamu. Ini salah persepsi. Kamu harus tahu. Tidak ada tujuan saya untuk mempermalukan kamu, tidak pula saya ingin pamrih dan tidak tulus meminjamkan pakaian itu pada kamu. Saya hanya ingin mengajak kamu bicara.
Sumpah, saya hanya mencoba untuk mencuri perhatian kamu, beberapa detik saja lewat pertengkaran itu. Karena malam itu saya sudah lelah, tidak sanggup lagi berkelakar.
Sumpah, saya hanya merindukan kamu. Saya terlalu sibuk, kamu tidak pernah keluar kamar untuk sekadar bicara. Kamu sibuk dengan bbm ketika saya tidak sibuk. Dan saya selalu sibuk, bahkan ketika kita berdua sama-sama sibuk.
Kita tidak punya waktu banyak untuk sekadar bercerita. Berbincang. Atau tiduran di kamar sampai larut malam. Saya rindu semua waktu itu.
Tapi ketika sekarang saya habiskan semuanya dengan bertengkar dengan kamu, meskipun masalahnya sederhana, hanya karena masalah pakaian, saya harus menangis di depan laptop karena tidak tahu harus bicara pada siapa soal beban yang saya tumpuk selama ini. Saya sedang perang dingin dengan kamu, kakak saya sendiri. Tempat sampah termahal di dunia. Saya menyesal. Sungguh menyesal
Tapi sepertinya kamu terlanjur marah. Entah apapun itu alasannya.
Hari ini saya sedih. Tersesat. Bingung. Sesak napas. Kamu tahu?
Oh tentu saja tidak. Kamu tidak mendengarkan apa-apa dari saya. Kita baru saja bertengkar, beberapa menit yang lalu. Lagi.
Kamu ungkit masalah waktu itu. Padahal saya sudah hampir lupa.
Saya rasa suatu hari saya harus belajar untuk tidak membutuhkan kamu.
Dan saya tahu,
Faktanya,
Saya tidak bisa. Belum bisa. Belum sanggup.
Saya masih butuh kamu, kakak perempuan saya, di sisi saya. Entah sampai kapan.
As if you remember that old time
when I called you “mbak vinta”
And you answered me “apa?”
Then I said “main, yuk?”
See, I was just trying to play with you. To spend more time with you. And that’s it.
I want to play with you. To spend more sisters time. To talk more, and less on the fighting stuff…
I miss you my dearest sister. Even I know we have only these couples of meters far to each other’s room.
But we have this little time to talk as we used to, remember?
In fact, we have this much time to have a fight, or more.
Funny isn’t it? Don’t you think so?
They came up with dear, John. So I came with a letter for you,
Dear, Vinta
I love you, sis
When will we make things up?
I’m scared now.
Jumat, Februari 18, 2011 | Label: and the truth is..., sudden | 0 Comments
Greenlite, maaf.
saya tidak sedang labil, apalagi galau.
Senin, Februari 14, 2011 | Label: and the truth is... | 0 Comments
sedikit alogikal
dia sudah tiga puluh dua, saya baru tujuhbelas.
itu berarti dia angkatan 70an, dan saya angkatan 90an.
tepatnya 72 dan 93.
dia sudah 9x lebih dewasa, dan saya belum sama sekali.
dia sepertinya sudah paham hidup, saya baru belajar berjalan.
ketika dia sudah legal, saya masih ilegal bagi negara.
ketika dia sudah bicara, saya sibuk merengek minta susu.
tapi saya tidak bisa menggerataki nasib. jadi, ya, terima saja apa jadinya nanti. apa frasanya akan berakhir dengan kata 'dengan' atau 'bukan dengan'… saya tidak boleh menolak, walaupun saya bisa melakukannya, karena saya tahu apa yang saya mau, dan siapa atau arah mana yang ingin saya tuju (yang untuk saat ini masih berputar pada usaha untuk menyetarakan diri dan isi pikiran dengan pria macam dia,
mungkin arus bertransformasi menjadi manusia 70an di tahun 2000an, atau mungkin berusaha untuk melipat gandakan kedewasaan menjadi setidaknya 5x lipat)
saya bingung, banyak yang bertanya apa saya sudah gila karena menggilai pria macam dia, bagi saya, menjadi gila macam ini adalah sebuah keuntungan.
ya, untungnya saya masih cukup sinting. sebenarnya saya mestinya lebih sinting dari ini, itupun jika saya sekadar ingin bertemu dengan dia. tekankan: hanya untuk bertemu dengan dia, ya, biasa, ada faktor internal yang membuat peraturan menjadi lebih rumit. lagipula dia bukan tipikal pria yang bisa ditemukan dengan mudah seusai konser di belakang panggung. kalau perlu, saya akan melamar menjadi adminnya jika memang itu yang dibutuhkan.
saya lakukan itu, kalau memang harus.
ini agak alogikal, ya, memang.
tapi alogikal adalah saya. maaf, harap diterima apa adanya.
P.S. Mas, saya tunggu di Jogja bulan Juli ini, ya. sampai Jumpa bulan Juli… (:
saya sebenarnya risih untuk menuliskan yang dibawah ini, tapi ya, daripada saya tulis hugs and kisses? sepertinya kata ini lebih keren, ya setidaknya kesannya begitu:
Bisous, monsieur!
saya tunggu di Jogja Juli ini.
dan faktanya,
saya tahu ini alogikal,
ya seperti apapun akhirnya,
rencana ini tetap alogikal untuk perempuan macam saya.
Sabtu, Februari 05, 2011 | Label: and the truth is... | 0 Comments
Pertanyaan kepada Tuhan
kadang kita tidak tahu peraturan Tuhan.
kadang kita tidak paham apa mau Tuhan.
kadang kita tersesat selama itu.
kadang kita tidak paham akhirnya.
kadang kita tahu kenapa akhirnya begitu
kadang kita mengerti, itu kesalahan yang kita buat.
kadang pula kita tidak juga mau mengerti.
Kadang peraturan Tuhan memang tidak adil.
itu semua karena kita tidak paham.
dan tidak pernah akan paham
itu saja intinya.
Tuhan, ini pertanyaan saya:
dari mana saya, hambaMu yang tolol ini, tahu bahwa ini adalah jalan yang benar,
jalan yang memang untuk saya. bukan jalan tempat saya tersesat, atau justru hasil ketersesatan saya?
beritahu saya, saya tidak ingin tersesat. masa depan saya masih jauh, terlalu jauh untuk dihabiskan dalam ketersesatan. tolong, tolonglah saya. saya ketakutan.
saya ketakutan, bahkan dalam doa saya sendiri.
saya menangis, bahkan dalam mimpi saya sendiri.
saya meringkuk, bahkan dalam dunia yang sesemu ini.
saya ketakutan, menangis, meringkuk. dan tidak tahu harus berbuat apa.
apakah ini berarti saya tersesat? sudah tersesat? begitukah?
saya terlalu buta untuk melihat jalur itu, tolonglah, saya belum mampu, tidak, saya justru tidak pahami rencana ini kemana semua jalur ini akan mengarah? dan dimana akan berakhir...
jadi, maukah Engkau menjawabnya?
dan faktanya, Tuhan, aku masih belum paham.
Sabtu, Februari 05, 2011 | Label: and the truth is... | 0 Comments
Search This Blog
press PLAY!
other posts...
want to know something?
- Bernadetha Amanda
- I know English, a little French, and I do speak Ngoko and a few Krama (Javanese language has three kinds of hierarchical language, they're two of them) at home, well, mostly. I'm a big fan of Javanese literature, traditional art, music, theatrical performances, and books but I got this lack of time and chance to do all that stuff... yeah THROW A CONFETTI. (and yeah, feel free to drop some comments... BISOUS :*)
Listed
-
Kind.7 tahun yang lalu
-
mencipta bahagia7 tahun yang lalu
-
-
-
Hey, this IS the 'next' post12 tahun yang lalu
-
-
-
swingin life14 tahun yang lalu
-
-
-
-
-