Tampilkan postingan dengan label letupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label letupan. Tampilkan semua postingan

pathetic, hypocrite, sorry.

sorry, I'm not so bold. I just can't face you. coward, eh? I know. I just can't see you right now. I'm so...so...so sorry. for heaven sake, I'm sorry.


sometimes you have to be a little honest to stay alive. or to keep your friend around.
but sometimes It'll drive them away. well, you'll see.
it's all about action
and reaction
basic stuff, eh?

you'll do the action
and they'll give you the reaction, with some certain reason
lets see, would it hurt you that much?
like the one I had few minutes ago.

pathetic.
hypocrite.
yeah. big deal, eh?
everything that includes friends, trouble, fear, action, reaction, feelings, instinct, problems, uncertainty, and all the things you had in mind that made you feel so damn unstable are pathetic
and hypocrite.
in the same way.

even tears does make you feel pathetic
and sometimes hypocrite.
well, you say.

helping myself out

weeping crying sobbing. from morning to dark. feeling so damn melancholic for no reason, I just wanted to cry.

I ate 3 slice of pizza, 4 garlic bread, 2 roasted chicken, and a chicken wing all in one lunch. imagine how this unknown melancholic thing turned me into a beast. I eat anything, I've never ever been so greedy.
I've never ever had a best friend, I don't know why it matters right now. shitty stupid thing.
I had all these friend, close friend. but imagine how hard it is to have the same understanding with someone else and make them you... best friend. lets say the bff that won't leave you for any reason, the one who won't leave you because he/she want to be popular. the one who... who... who accept you for who you are.
I don't know why this is so damn important. why then? huh?
my life has been so wonderful. it's not a big deal. I'm alive with or without bff.

some famous people out there said there's no bff. there's no best friend forever. there's no that kind of thing. the only thing that does exists is: the people who understand you.

so, lemme ask something...
can I find someone who understand me perfectly? even when I'm sobbing and weeping and crying and screaming till dawn... well except my sister of course.
lets say I don't deserve any best friend... but can I please have someone who can stay beside me and listen to me all the time without any slight feeling of disturbed?
ah God, can I find one real friend who is not so selfish?

p.s. bukannya saya meragukan semua teman saya sekarang. kalian baik, sangat baik. tapi oke ini hanya masalah saya yang sedang sinting. ya mungkin itu masalahanya. katakanlah begitu.
ya intinya, saya sedang merasa... jauh, sangat jauh dari kalian. sangat jauh dari peradaban. sangat sangat jauh.
ini bukan masalah besar. oke. saya harus meyakinkan diri saya sendiri soal ini.

"ini bukan masalah besar, dan saya harus berhenti menangis"
"bukan masalah besar, harus berhenti menangis"
"masalah besar, menangislah"

saya butuh seseorang untuk mengatakan monolog yang ketiga. saya mungkin tidak akan menjawab, tapi terimakasih karena mengizinkan saya menangis.

oke. saya harus menolong diri sendiri sekarang.

these are the reasons why I'm crying, and honestly, I'm not an expert

1. tenggorokan saya rasanya panas sekarang. saya serius. sepertinya udara baru saja meledak di dalam sini, membentuk percikan api sempurna yang mambakar diam-diam. saya baru saja manangis (lagi), entah terharu, atau sekadar ingin menangis saja, menghabiskan waktu dengan kegiatan tidak penting sambil merunut ke belakang. salah apa yang sudah saya buat, apa yang membuat saya merasa bodoh, apa yang membuat saya tertawa, apa yang membuat saya menggeram, apa yang membuat saya gusar, apa yang membuat saya sesenggukan, apa yang membuat saya rindu, apa yang membuat saya jijik, bahkan pada diri saya sendiri sekalipun, apa yang membuat saya menjadi salah, apa yang membuat saya merasa bersalah, apa yang membuat saya tertekan, apa yang membuat saya peduli, apa yang membuat saya sedih, menangis, mengais waktu, mencoba menarik mundur segalanya, berusaha mengulang segalanya, apapun itu, sehingga hari ini, tidak harus menjadi hari ini, bisa menjadi hari lain, hari Kamis yang bukan seperti ini, atau hari kemarin yang tidak seperti kemarin. atau kesalahan yang semestinya tidak terjadi. rasa yang semestinya memang tidak ada, kecuali saya memang tidak benar, kecuali saya ini salah, kecuali saya tidak normal, tidak seperti apa adanya. memiliki esensi bahwa saya menyukai pria yang tidak mestinya saya sukai. hanya karena dia pria yang tidak mestinya ada di sana. bukan dia.


2. saya dirongrong masalah itu setiap malam. mempertanyakan semua hal yang tidak perlu dipertanyakan. kenala malam harus gelap dan pagi harus terang. kenapa hujan selalu turun setiap saya tidak butuh. kenapa matahari selalu muncul ketika saya butuh hujan. kenapa selalu ada panas sebelum hujan, dan kenapa selalu ada lembab setelah hujan.
kenapa saya merasa aneh?
sesak?
lelah?
bosan?
"manusia yang berani mati adalah manusia yang sudah paham cara main hidup, dan bosan karena menganggap hidup ini terlalu mudah. bukan karena mereka tidak sanggup. mereka yang mati karena tidak sanggup adalah tolol..." dan saya tidak ingin disebut tolol.

3. saya lelah berbohong pada diri sendiri.
"I'm an expert on crying... saking seringnya gue nangis. habisin sekarang, jadi nanti kalo lo inget lagi, lo gak akan nangis (:"
simple. saya berbohong. saya hanya berusaha membuat kamu tenang. membuat kamu merasa tidak lemah. kamu tahu?
ketika seorang teman merasa lemah, kamu harus kuat. berpura-pura kuat sekalipun. entah pengakuan tolol apa ini, tapi saya hanya ingin jujur. saya bohong. saya bukan expert. saya masih menangis setiap malam, dan tololnya saya tidak pernah bisa menyelesaikannya, dan kembali merasa sesak setiap kali ingat apapun yang membuat saya menangis. menangisi rasa kehilangan setiap waktu, padahal kehilangan itu sudah berwaktu-waktu lalu terlewat. bekasnya terlalu dalam. sangat dalam. saya tidak bisa lupa. tidak bisa bertahan untuk membendung tangis yang mestinya diselesaikan berpuluh bahkan beribu-ribu jam yang lalu.

4. ini hanya sekumpulan perasaan yang membuat saya merasa dingin. yang membuat saya gerah setiap kali ingat. sekumpulan rasa bersalah yang membuat saya sukses menangis sembunyi-sembunyi di balik bantal di malam hari, atau di depan laptop ketika rumah sedang kosong. tidak ada yang tahu.
tidak ada yang tahu saya menangis sebanyak ini kecuali seorang teman yang biasa menerima saya yang cengeng setiap kali saya mengirim sms.
"geografi gue ancur..."
"gue udah get over dari dia..."
"sejarah sudah membuat lo sinting apa belom?"
saya hanya mengirim semua itu ketika ingin lupa bahwa saya berniat untuk menangis. dan sayangnya, tololnya, saya mengirim itu setiap hari. setiap kali. setiap waktu. bisa ditebak berapa banyak saya sobbing karena menangis, dan berapa kuat saya mencoba untuk menahannya. terimakasih karena kamu tidak pernah terlihat lelah. meskipun saya sebenarnya tidak aham berapa kali kamu mendengus setiap kali sms itu sampai. tapi saya bersyukur ada teman seperti kamu. dan saya bersyukur masih ada manusia seperti kamu yang bisa membuat saya merasa baik-baik saja, walaupun keadaan tidak sebaik itu.

5. saya lelah berpura-pura. berpura-pura baik saja. seolah saya memang sebaik itu. berpura-pura ini membosankan, dan saya tidak pernah bisa menghindar dari berpura-pura. entah kenapa. hanya tidak ingin semua orang tahu. bahwa di dalam sini sebenarnya saya rusak.
iya, serusak itu.

benar-benar rusak.
sobbing to sleep.
ketika saya terbangun, entah masalah apa lagi yang akan lewat.
saya bilang get over, tapi saya tidak bisa.
tolol.
sialan.

emosi tingkat tinggi!

saya tidak paham apa requirements nya. saya tidak paham apa mau kamu. dan saya benar-benar tidak paham kenapa saya harus merasa bersalah.

kamu yang mempersulit keadaan, dan kenapa saya yang harus menanggung ampasnya?
kamu selalu diam di saat yang salah dan bicara pada momen yang tidak tepat.
dan rasanya kamu selalu benar, saya selalu salah.
apapun poinnya, saya selalu salah. tidak pernah benar.

kamu bukan siapa-siapa, asal kamu tahu. saya masih bisa hidup tanpa kamu.
kamu itu sendiri, bukan plural. dan saya bisa jatuhkan kamu hanya dengan satu pernyataan singkat.
bukannya saya sok berkuasa, sok hebat, atau apapun itu, saya hanya ingin menunjukkan pada kamu bahwa dunia ini tidak terbatas pada persoalan kamu kamu dan kamu. sejak kapan saya harus selalu mempedulikan kamu dan keluarga kamu? hah?
selesaikan semua kebutuhan dan ketentuan kamu, seperti kamu berusaha menyelesaikan masalah orang lain. apa yang membuat semua ini sulit?

lain kali kamu bertemu saya, saya tidak akan bisa sebaik dulu.
kamu manusia termunafik yang pernah saya tahu.
terimakasih.

salahkan saya, lagi dan lagi, silakan.

selalu menjadi pihak pertama yang disalahkan, dan pihak terakhir yang diajak bicara.

muak rasanya ada di posisi ini.
inferior. seolah tidak diketahui keberadaannya.
bahkan ketika halus sekat emosi dan ego ini sudah bergesekan, tidak juga sakitnya berhenti.

jadi, saya sudah terbiasa dengan ini
silakan salahkan saya, sepuas-puasnya.
kalian tinggal menunggu menemukan raga saya menguap bersama udara, dan hilang,
lalu kalian kehabisan objek penderita
kehabisan manusia untuk dipersalahkan.
masih mau mencoba mengubah raga menjadi angin?

silakan, pintu itu masih terbuka lebar.
dan waktu masih mampu menunggu
mumpung.
mumpung ia berbaik hati.
silakan, saya sudah siap.
saya diam bukan karena menyerah,
tapi ingin henti berbuat dosa. itu saja.

represif, reaktif, intuitif (,kau)

(sekarang saya mencoba berbicara pada diri sendiri, siapa tahu bisa sadar hehe
walaupun saya sedang error, tapi saya masih tahu apa yang mestinya benar saya lakukan, dan apa yang mestinya salah dan tidak boleh dilakukan.
yang boleh adalah bercerita, yang tidak adalah memendam
ini cuplikan monolog saya pada diri sendiri kemarin malam)

represif, reaktif, intuitif
tidak bisakah kau menjadi lebih realistis? imajimu itu rasanya rerlalu dalam. potret pikiranmu belum usai kupetakan, kini muncul seluruh rinci mata rantai lainnya. rasanya harumu itu sepekat kopi, membelesak di tenggorokan, pahit. dan aku tidak paham kenapa kau begitu tenggelam di dalamnya. tidak bisakah aku tahu saja, apa dan siapa yang mencipta semua harumu itu?
yang ada, kau sembunyikan semuanya, seluruhnya, seutuhnya, dengan begitu sempurna. erat. seolah kau begitu egois pada rasa sakitmu sendiri.
namun lebih dari yang kau tahu, lalu kau meletup, letupan tipis, namun cukup mematikan untuk membunuhmu, seperti racun yang menyebar pada darah, dan merisaukan sistem tubuhmu. kau pun kehilangan akal, tertidur, terbangun, lalu lupa.
tiba-tiba tangis itu letup lagi. pecah tanpa ada yang tahu. elegi tangis labil yang tidak bisa kau selesaikan, atau kau urutkan mata rantainya, dari mana asalnya, seperti dirimu, seperti pikiranmu, entah dimana ikatan awalnya. membelitmu seperti simpul mati.
hei, sudah cukupkah bagimu permainan rahasia ini?
dengarlah, aku hanya butuh tahu, sedalam apa sakitnya. sesulit apa ia mencekat nafasmu. karena itu, bernafaslah denganku jika kau mau.

namun tolaklah jika bagimu nafas ini belum cukup. belum cukup untuk menyembuhkanmu. atau menghidupkanmu.

oh, rasanya kau ingin menelan sendirian perih itu. kau pepatkan, sembunyikan, erat di dalam toples kaca, terkunci dalam konstelasi tubuhmu sendiri. luka di tubuhmu yang masih berdarah, belum pula kau sembuhkan, hanya sejenak kau lupakan, kini ia siap terbuka lagi, dan begitupun suatu hari nanti, kapanpun ia mau terbuka, ia akan senantiasa menyakitimu lagi. dan aku yakin kau selalu tahu awalnya, akhirnya, bahkan rasa sakitnya. tidakkah kau ingin menyerah? menyerahlah dan sedikit buka rahasia kecilmu itu...
masih mampukah kau tahan?

oh, rasanya aku berbicara pada diriku sendiri. ya, atau aku berbicara pada Tuhan. bermonolog dalam konstelasi abstrak duniaku sendiri. dengan bintang yang pudar, dan buyar bersama iluminasi cahaya yang berpendar, meredup, hilang. langitku hilang sudah. konstelasiku bubar. runtuh.
monolog ini masih akan berlanjut,
dan kurasa aku masih cukup sinting untuk menyadarkanmu.
ya, aku masih cukup sinting untuk itu.
umpat aku dengan semua yang kau punya,
akupun masih cukup gila untuk bisa menerimanya.

Diberdayakan oleh Blogger.

Search This Blog

press PLAY!

other posts...

want to know something?

Foto Saya
Bernadetha Amanda
I know English, a little French, and I do speak Ngoko and a few Krama (Javanese language has three kinds of hierarchical language, they're two of them) at home, well, mostly. I'm a big fan of Javanese literature, traditional art, music, theatrical performances, and books but I got this lack of time and chance to do all that stuff... yeah THROW A CONFETTI. (and yeah, feel free to drop some comments... BISOUS :*)
Lihat profil lengkapku

now, count!

free hit counter

followers

Pages