Tampilkan postingan dengan label sudden. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sudden. Tampilkan semua postingan

~

pertama: saya ingin pulang ke jakarta

kedua: kemudian lanjut ke jogja dan solo
ketiga: kemudian jalan-jalan dari utara dan lanjut ke selatan
keempat: kemudian menjelajah barat hingga timur
kelima: lalu memandangi matahari kuning hingga jingga kemerahan
keenam: melihat kamu tertidur lelap dengan tangan terlipat di bawah kepala
ketujuh: memperlambat waktu dan menahan angin, membelai rumput di bawah tangan saya, lalu berkata "saya ingin seperti ini selamanya"

hei, saya merindukan kamu dan jiwa bebasmu.
kemana saja kamu?
saya terjebak dalam infinitas tanpa distraksi.

would it be nice?

"... When I was in complete surrender of who I am, the helpless idiot venturing her endless lessons of love and life. When I was thankful that he would grow a day older and see what a mess I could be. And I can feel I am arriving in that moment again, right now, as I am cuddled like his Teddy, and still not knowing what to do or what to decide."


See the sunrise
Know it's time for us to pack up all the past
And find what truly lasts
If everything has been written, so why worry, we say
It's you and me with a little left of sanity
If life is ever changing, so why worry, we say
It's still you and I with silly smile as we wave goodbye
And how will it be? Sometimes we just can't see
A neighbor, a lover, a joker
Or a friend you can count on forever?
How happy, how tragic, how sorry?
The sun's still up and life remains a mystery
So, would it be nice to sit back in silence?
Despite all the wisdom and the fantasies
Having you close to my heart as I say a little grace
I'm thankful for this moment cause
I know that you

Grow a day older and see how this sentimental fool can be
When she tires to write a birthday song
When she thinks so hard to make your day
When she's getting lost in all her thoughts
When she waits a whole day to say...
"I'm thankful for this moment cause I know that I
Grow a day older and see how this sentimental fool can be
When he ache his arms to hold me tight
When he picks up lines to make me laugh
Whan he's getting lost in all his calls
When we can't wait to say : "I love you'."

If everything has been written down, so why worry, we say
It's you and me with a little left of sanity


-Grow a Day older
Dewi lestari, Rectoverso.


So, would it be nice to sit back in silence?

realistis... legowo...

rasanya sudah lama tidak bicara... ngobrol, dalam satu tatap muka.

lama sekali...
hampir dalam waktu panjang itu saya kehilangan kesempatan untuk bercerita.
sangat banyak cerita yang terlewat, yang mungkin dia lewatkan, yang juga saya lewatkan.
terlalu banyak...
terlalu panjang...
terlalu... saya rindu semua esensi itu
ketika saya merasa ada seseorang yang mendengarkan, ada seseorang yang paham, ketika ada seseorang yang memperingan usaha saya untuk menenangkan diri sendiri dan berhenti melukai diri dalam elegi kesedihan, seperti ingin bunuh diri.

redakan semua esensi itu, sadar, sekarang saya sudah hampir sedemikian jauh dari keadaan nyaman itu. sudah terpelanting sekeras ini, dan rasanya sulit untuk menerima semua dengan legowo...
waktu-waktu kemarin sia-sia.
saya harus realistis

ternyata menjadi realistis lebih sulit daripada menjadi legowo

apa bedanya realistis dan legowo?
beda... jauh berbeda...
dan saya belum bisa melakukan keduanya.

tol Cikarang, 8 Mei 2011

saya sudah lelah bicara rasa. membicarakan sesuatu yang tidak tahu dimana pangkal dan ujungnya. yang lebih rumit dari sekadar cabang pohon willow, atau akar pohon beringin yang menjuntai jatuh.

seandainya rasa bisa diurai lebih cepat, lebih mudah, seperti mengurai bekas lipatan kertas origami.

katanya...
retorika yang dihentikan, bukan lagi retorika.
awal tanpa akhir, sama sekali bukan awal.
bernapas tanpa udara, sama sekali bukan bernapas.
berteriak tanpa suara, sama sekali bukan berteriak.
manusia tanpa rasa, sama sekali bukan manusia, begitukah?

kalau saya mencoba lari menghindar dari rasa yang membuat saya sesak, adakah letak salahnya?
saya ingin tahu,
dimana lagi letak kesalahan saya?

selain karena melihat langit jingga di ujung jalan yang mengharu biru,
seperti jingga yang saya sentuh pertama kalinya waktu itu,
ketika kamu berkata halo,

saya tidak menyesal kenapa semua sudah selesai,
saya hanya menyesal kenapa kamu harus memulainya lagi.
dan kenapa kamu harus berhenti sebelum saya tahu bahwa kamu yang menuliskannya?
tidakkah begitu jelas... saya ingin kamu kembali.

kembali lagi, sampai pukul satu pagi.
"kamu belum tidur?
apa kabar ujian perancis kamu?"
iya saya tidak bisa tidur, padahal sudah pukul satu pagi
tololnya kamu masih mau menemani saya bicara,
hal-hal yang tidak penting,
seperti kenapa paduan suara harus berlatih di malam hari,
dan kenapa kamu masih terjaga selarut ini?
"kamu..."
ya, klise, tapi terimakasih.


bukannya saya berusaha menjadi melankolis
tidak. saya berusaha jujur. saya tidak pernah sejujur ini.

dan langit masih sejingga ini, saya tidak mengerti kenapa
kenapa harus sekarang.

manusia tolol

dunia ini sempit. sempit sekali.

rasanya seperti gang senggol. belok sedikit, ketemu di perempatan sana, kalau geser sedikit, berpunggungan dengan teman sendiri.
sayangnya, dunia tidak bisa diperluas, tapi isinya mungkin bisa berkurang... maksud saya, ya manusianya.
tapi saya tidak rela kalau yang dikurangi itu adalah orang-orang dekat saya.
egois ya?
ya, kira-kira beginilah manusia.
selalu ingin hal ini itu terjadi pada manusia lain, menyumpahi mati-matian.
tapi kalau sumpahnya berbalik... mereka mulai menghujat Tuhan.
intinya... bagi manusia, mereka tidak pernah salah. selalu mendahulukan ego ketimbang rasio dan akal, bahkan rasa.
ya, manusia tolol.


eh, kenapa saya malah membuat postingan baru?
tolol. mestinya saya belajar.
-___-"
maaf. buku-buku pelajaran mendelik ke arah saya sekarang. saya harus kembali pada mereka.

Dear, Vinta

Buang saja waktu. Jika memang itu yang mestinya dilakukan. Saya lelah dipersalahkan terus. Dilelehkan paksa seperti mentega di atas tungku, melumer kembali pada api yang menghabisinya.

Detiki saja jam itu jika kamu mau. Saya bosan dicerca setiap kali kamu mencari celah jalan keluar dan kembali menyalahkan saya.

Rusak saja semua batasan itu. Batasan salah benar. Buruk baik. Tidur bangun. Buat saya merengkuh kembali kakimu, memohon supaya kiamu tidak menyerang saya dengan kata-katamu yang terlalu menyakitkan itu.

Salah jika saya membela diri? Ya, untuk kamu, saya selalu salah. Tidak pernah benar.

Dan kamu selalu benar. Seperti Tuhan. Yang mencipta semuanya, dan menjadikan segalanya baik.

Kamu dengan egoisme tingkat tinggi. Kamu yang dewasa. Hingga pada akhirnya selalu saya yang dicap anak kecil. Tolol. Bodoh. Pembuat masalah. Cengeng. Egois. Si pembuat salah. Si tersangka. Terdakwa. Yang mestinya dipenjara dengan rasa bersalah.

Bukankah kamu mestinya menjadi dia yang mengenal saya? Bukan menjadi dia yang hanya bisa menyerang saya, bersikap egois dan selalu memikirkan diri sendiri? Kapankah di dunia ini ada waktu untuk menyisipkan sedikit saja diri saya ini di dalam pikiran kamu? Ataukah hanya ada kamu, kamu, kamu, dan kamu saja di seluruh konstelasi dunia kamu?

Jangan marah. Saya hanya mencoba membela diri. Saya tidak eprnah punya kesempatan untuk ini di hadapan kamu. Kamu selalu benar, dan saya tidak pernah benar.

Sementara setiap kali saya terpuruk, hanya ada kamu di pikiran saya. Setiap saya bahagia, saya selalu berterima kasih pada kamu, datang padamu, mengucap kasih yang belum pernah setulus itu saya ucap kecuali pada orang tua dan kamu. Saya sadar kamu satu-satunya bahu yang sempurna untuk tempat bersandar. Yang selalu bisa mendengar kapanpun saya mau. Yang selalu ada di rumah setiap sore, siap mendengarkan saya di dalam kamarmu, walaupun saya tahu, kamu sibuk setengah mati.

Saya tangisi kebaikanmu. memuji kamu mati-matian, seolah kamu dewi terbaik yang diturunkan langit untuk saya, untuk menemani saya, menikmati semua ini dengan cara baik-baik saja. Merasa tidak perlu dipersalahkan, ataupun berbuat salah.

Tahukah kamu, hari-hari terakhir ini saya sering mendekati kamu, mengajak kamu bicara, di tengah semua kelelahan dan kesibukan saya, setidaknya melambaikan tangan ketika kamu keluar dari kamar, walaupun jarak kita kurang dari satu meter.

Sadarkah kamu, saya selalu memasang senyum terlebar saya setiap kali kamu keluar dari ruangan kecil milik kamu di rumah ini, dalam hati saya bicara, akhirnya dia keluar.

Tidakkah kamu sadar juga? Di tengah semua kesesakan sekolah yang dirunut terus menerus setiap hari saya selalu berusaha datang pada kamu? Bukan untuk meringankan beban saya sendiri. Saya sudah punya orang lain untuk bicara, dia selalu ada kapanpun saya butuh. Tiap pagi. Siang. Sore, tapi tidak, dia tidak bisa menggantikan kamu. Saya pernah cerita soal dia.

Saya tersenyum lebar, melambaikan tangan, mencoba mendekati kamu, kadang mengatakan sesuatu yang mengesalkan kamu, bercanda walau kadang berlebihan dan membuatmu kesal, sampai suatu hari saya bicara, meminta kamu melepaskan pakaian yang kamu pinjam dari saya dengan alasan saya pakai baju itu sabtu ini, dan kamu marah, karena saya mengatakannya di depan pacar kamu. Ini salah persepsi. Kamu harus tahu. Tidak ada tujuan saya untuk mempermalukan kamu, tidak pula saya ingin pamrih dan tidak tulus meminjamkan pakaian itu pada kamu. Saya hanya ingin mengajak kamu bicara.

Sumpah, saya hanya mencoba untuk mencuri perhatian kamu, beberapa detik saja lewat pertengkaran itu. Karena malam itu saya sudah lelah, tidak sanggup lagi berkelakar.

Sumpah, saya hanya merindukan kamu. Saya terlalu sibuk, kamu tidak pernah keluar kamar untuk sekadar bicara. Kamu sibuk dengan bbm ketika saya tidak sibuk. Dan saya selalu sibuk, bahkan ketika kita berdua sama-sama sibuk.

Kita tidak punya waktu banyak untuk sekadar bercerita. Berbincang. Atau tiduran di kamar sampai larut malam. Saya rindu semua waktu itu.

Tapi ketika sekarang saya habiskan semuanya dengan bertengkar dengan kamu, meskipun masalahnya sederhana, hanya karena masalah pakaian, saya harus menangis di depan laptop karena tidak tahu harus bicara pada siapa soal beban yang saya tumpuk selama ini. Saya sedang perang dingin dengan kamu, kakak saya sendiri. Tempat sampah termahal di dunia. Saya menyesal. Sungguh menyesal

Tapi sepertinya kamu terlanjur marah. Entah apapun itu alasannya.

Hari ini saya sedih. Tersesat. Bingung. Sesak napas. Kamu tahu?

Oh tentu saja tidak. Kamu tidak mendengarkan apa-apa dari saya. Kita baru saja bertengkar, beberapa menit yang lalu. Lagi.

Kamu ungkit masalah waktu itu. Padahal saya sudah hampir lupa.

Saya rasa suatu hari saya harus belajar untuk tidak membutuhkan kamu.

Dan saya tahu,

Faktanya,

Saya tidak bisa. Belum bisa. Belum sanggup.

Saya masih butuh kamu, kakak perempuan saya, di sisi saya. Entah sampai kapan.

As if you remember that old time

when I called you “mbak vinta”

And you answered me “apa?”

Then I said “main, yuk?”

See, I was just trying to play with you. To spend more time with you. And that’s it.

I want to play with you. To spend more sisters time. To talk more, and less on the fighting stuff…

I miss you my dearest sister. Even I know we have only these couples of meters far to each other’s room.

But we have this little time to talk as we used to, remember?

In fact, we have this much time to have a fight, or more.

Funny isn’t it? Don’t you think so?

They came up with dear, John. So I came with a letter for you,

Dear, Vinta


I love you, sis

When will we make things up?

I’m scared now.

...

menatap mata yang tak semestinya saya tatap.

mencintai dia yang tak semestinya saya cintai.

merusak apa yang tak semestinya tidak saya rusak.

semua ini salah. saya paham. tapi ini terlampau…

terlampau eksplisit untuk saya sembunyikan.

maaf saya belum sehebat itu untuk bisa bertahan.

Diberdayakan oleh Blogger.

Search This Blog

press PLAY!

other posts...

want to know something?

Foto Saya
Bernadetha Amanda
I know English, a little French, and I do speak Ngoko and a few Krama (Javanese language has three kinds of hierarchical language, they're two of them) at home, well, mostly. I'm a big fan of Javanese literature, traditional art, music, theatrical performances, and books but I got this lack of time and chance to do all that stuff... yeah THROW A CONFETTI. (and yeah, feel free to drop some comments... BISOUS :*)
Lihat profil lengkapku

now, count!

free hit counter

followers

Pages