Tampilkan postingan dengan label stuck. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label stuck. Tampilkan semua postingan

the run

take me on the run, please.
perhaps I just can't stand the feeling of being stupid and extremely idiot

"saya lelah merasakan rasa"

entahlah. rasanya luar biasa penat.

saya bisa duduk berjam-jam di dalam kamar, tanpa melakukan apapun. menangkap keadaan dimana melamun menjadi sangat menyenangkan dibanding tidur. mendoktrin pikiran bahwa melamun lebih mengenyangkan dibanding makan. bermain bohong dengan diri sendiri bersama anggapan bahwa melamun akan memperbaiki semuanya.
entahlah, saya hanya ingin melakukan semua ini sepanjang hari.
saya ingin diam, tertawa ketika ingin, menangis ketika butuh, meratap ketika harus, memejamkan mata tanpa tertidur, rebah di atas lantai tanpa merasa dingin, bersahabat dengan suara angin, mendengar hanya suara lagu yang diputar acak.
memejamkan mata, tanpa tahu dunia. tanpa tahu orang lain. tanpa tahu soal rasa. tanpa tahu apa itu penat. tanpa tahu apa itu sakit. tanpa tahu apa itu takut. tanpa tahu apa itu waktu.
karena kadang kita butuh untuk tidak tahu apa-apa.
saya ingin menangis berjam-jam jika mungkin. tanpa ada ketukan di pintu atau suara ponsel yang berdengung.
saya ingin rebah di lantai, diam, begitu saja, sampai pagi.
biar semua diam, biar semua terasa sunyi.
saya lelah beramai-ramai.

karena tanpa suara, tanpa pengetahuan, tanpa rasa ingin tahu mungkin dunia akan jadi tenang.
tenang tanpa dinamika. seperti laut yang tenang tanpa ombak, dan langit bersih tanpa awan.
saya ingin setenang itu, sebersih itu, sediam itu.
ketenangan sempurna ketika saya hanya tahu siapa saya.

jujur, saya hanya tidak ingin tahu soal apapun sekarang.
saya ingin menangis jika itu mungkin.
saya hanya butuh tidak tahu apa-apa.
tutup telinga saya, biar saya memajam, membuat diri saya merasa kebas, bebal terhadap rasa, apapun itu.
saya lelah merasakan rasa.

saya bisa menunggu, tapi tidak selamanya

saya bisa menunggu

tapi maaf,
tidak selamanya.
saya mau berusaha
tapi maaf,
sekarang sudah menyerah
jangan dulu tanya saya kenapa
tanya diri kamu dulu.
siapa yang menyempitkan dunia jadi sekecil otak kamu?
siapa yang membuat langit yang sebegitu luas
jadi hanya milik kamu?
sudah saya bilang jangan buru-buru bertanya
saya sudah bilang kamu harus diam.
saya sudah bilang
kamu
harus
diam
tapi kamu memaksa. ya sudah, saya jawab
semua itu salah kamu
kamu picik
dangkal
pengecut
saya benci sama kamu, ya asalkan kamu tahu.
saya benci setengah mati.
rasanya otak kamu sudah bebal
seandainya saya berdoa sekarang
saya akan mengucapkan hal ini,
tolong jauhkan saya dari orang macam 'dia'
dia itu kamu
kamu itu dia
dan saya ingin jauh-jauh dari kamu, puas kah?
jelas kah?
terang kah?

saya bisa menunggu
tapi maaf,
tidak selamanya.
terima kasih.

Bernadetha Amanda
*saya baru tahu ternyata dunia ini hanya sekecil otak kamu
maaf, saya harus bersarkastik lagi,
kalau tidak, otak bebal kamu tidak mau menerima, kan?

Melancholic Bitch!

"gue kemakan omongan gue sendiri..." saya berucap ringan. tapi itu tidak seringan pikiran saya... sumpah.
dulu, sebelum ini, saya benci setengah mati dengan band indie, ya dengan beberapa alasan tertentu... tapi, bukannya sok atau gimana... jujur, saya berusaha untuk bersikap netral, tapi kok susah, ya? intinya beberapa alasan yang -buat saya- sudah cukup kuat itu membuat saya menolak mati-matian musik indie... dan anggapan saya itu membentuk generalisasi yang sempurna untuk semua band indie. ya memang saya yang salah...
again, no offense.

nah sekarang kepala saya mulai berputar-putar. saya kemakan omongan sendiri. dari benci setengah mati, sekarang saya bilang: sumpah mereka keren banget...
dan saya merasa sama sekali tidak konsisten. pertama Frau. kemudian Melancholic Bitch. lalu band-band lain yang muncul dan muncul terus di kolom browse youtube laptop saya, parahnya semuanya berjajar, berentet sampai saya sendiri pusing mau 'menyalahkan' yang mana dulu.
oke... saya runut dari awal.

seperti yang sudah saya post sebelumnya, awalnya saya kenal Frau lebih dulu. dengan permainan musiknya yang indah, membuat saya kepikiran sampai berbulan-bulan,
ya Tuhan, bagaimana bisa Tuhan menciptakan manusia dengan kemampuan sehebat itu? tangan saya aja gemetar kalo bersentuhan dengan tuts piano, ehm, jujur... main pianika aja saya nggak lancar...
nah untuk hal ini, saya lebih senang menyalahkan Nina dan kakak saya, mereka menyodorkan lagu-lagu Frau, yang sayangnya, semuanya enak. Cinta pertama saya jatuh pada Frau. saya ngebet banget memandangi Frau memainkan Oscarnya di atas panggung... membayangkan saja saya sudah merinding.

dan... bagaimana saya tahu melancholic bitch? (di bawah ini foto mereka waktu konser di Salihara)
kalau yang satu ini murni karena rasa keingin tahuan saya, ya atau bahasa jeleknya pure karena ke-kepo-an saya yang sedemikian dahsyat sampai semua web saya buka untuk cari tahu soal Band ini. awalnya, saya jatuh cinta dulu dengan guest singer yang duet dengan Frau di lagu Sepasang Kekasih yang Pertama Becinta di Luar angkasa. saya mendengarkan lagu itu berkali-kali sampai ipod touch saya yang layarnya kotor itu punya satu spot berbentuk lingkaran tepat di atas lagu Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa (mungkin karena spot itu terlalu sering saya tekan).
lalu ke-kepo-an saya dimulai... saya googling semalaman... mencari siapa guest singer di lagu itu.
dan akhirnya ketemu: Ugoran Prasad. awalnya mungkin saya biasa saja... tapi setelah saya tahu bahwa ternyata Ugoran adalah: penulis lirik untuk lagu yang saya gilai tadi dan ternyata Ugoran adalah seorang penulis, ditambah dengan suaranya yang sedemikian brilian... saya speechless. sumpah, saya stag di depan layar. ternyata manusia yang satu ini...
saya tidak bisa melanjutkan. saya tidak menemukan kata yang pas. intinya: saya jatuh cinta sama suaranya. selanjutnya saya jatuh cinta pada melancholic bitch, kemudian jatuh cinta juga pada musik indie.
saya cari melancholic bitch di internet... bermodal googling danbeberapa biskuit di sebelah laptop... saya mencari sampai ketemu. eh ketemu juga! Melancholic bitch yang adalah band asal Jogja (tempat kelahiran ibu saya, saya pulang ke sana tiap liburan... oke nggak penting) lalu saya googling lagi, cari lagu dan musiknya...
tanpa saya sadari... selama video konser Melbi@Salihara itu diputar, kepala saya goyang-goyang sendiri... kaki saya menghental-hentak sendiri, ikut dentuman drum yang bergerilya habis memasuki otak saya... "mampus..." saya berucap sarkastik untuk diri saya sendiri...
musiknya tidak main-main... jauh dari yang saya bayangkan. mereka keren! ah... labil. tapi memang betul, mereka keren, super keren. lagu mereka terngiang-ngiang di pikiran saya, tiap hari, tiap pagi saat mandi, siang saat makan, malam sebelum tidur, saya seperti orang sakit yang harus minum obat persis tiga kali sehari, atau mungkin lebih, toh saya tidak perlu takut overdosis.
dari lagu pertama yang saya tahu: mars penyembah berhala, sampai noktah pada kerumunan... semuanya berhasil membaut saya gila. saudara sepupu saya yang ada di sampings aya waktu tidur sampai menggeram kesal karena saya tidak ebrhenti menggumamkan lagu mars penyembah berhala sepanjang malam...
"Siapa yang membutuhkan imajinasi, jika kita sudah punya televisi, whooo-hoo"
"woy, berisik...lagunya enak, tapi kalo kamu nyanyiin sepanjang malem gitu aku nya yang pusing..." dan endingnya, lagu itu saya ulang-ulang sampai saudara sepupu saya itu akhirnye memutuskan untuk membekap diri dengan bantal, dan itu berlangsung sepanjang malam...
iya kalau saya cepat tidur... kalau begadang seperti itu? yang pusing justru dia yang tidur di sebelah saya... wah ternyata saudara sepupu saya ada benarnya.

ya kira-kira begitu lah cara saya menarik ucapan saya soal band indie... Melancholic Bitch membuat saya berubah pikiran. musiknya hebat! tidak asal... jelas bukan band main-main, dan suara vokalisnya, Ugoran Prasad, plus kehebatannya dalam mengusung lirik berisi dan tidak peres itu... benar-benar membuat saya pusing. saya jauh cinta pada suaranya... ya begitu saja. tanpa perlu berpikir, saya hanya perlu mendengar.
mungkin saya sudah JAUH terlambat untuk mengenal band ini. tapi ya mau gimana?
saya sudah terlanjur tresno, gek tresnone tenanan meneh... (haha itu kata ayah saya)

dan saya tahu saya harus segera mencari albumnya dan cari tahu kapan Melbi akan konser lagi...
dengan personel komplit tentunya (karena atas hasil ke-kepo-an saya juga -hehe- vokalisnya Mas Ugoran Prasad -cih berasa akrab gue manggil mas- sudah mau berangkat atau mungkin justru sudah berada di New York ketika saya menulis ini sekarang -the big apple Man!!!- selama satu tahun karena mendapat beasiswa dari Asian Cultural Council sebagai seniman yang akan menjalankan program kebudayaan selama dua semesetr di New York -yang ini saya copy paste dari blognya Melbi: kotakgelas.blogspot.com- nah lo! ini nih yang membuat saya makin jatuh cinta sana Melbi, isinya orang pintar semua ternyata, berbakat! dan saya jadi cinta berat sama Ugo -sial, labilnya balik- parah, saya maki-maki diri saya sendiri karena tidak tahu band ini sejak awal kemunculannya... saya menyesal)
tapi di mana? email saya saja belum dibalas... jadi saya jadi tidak tahu harus cari di mana. haha.



p.s. post-an saya labil, ya?
haha...
maaf, tapi saya tidak peduli
seenggaknya saya cukup pintar untuk berubah pikiran...
terima kasih karena sudah mau bertahan membaca sampai akhir :)
merci beaucoup mademoiselle, madame, et monsieur.
BISOUS,

Bernadetha Amanda

I'm tired, and I'm crying.

honestly, I'm tired.
what can I do then?
I've been laying my head down by my pillow for many times.
can't you see how hard it was? I'm trying to get over it, but I can't!
anyway, no matter how, no mater what, you won't listen, just won't listen to me.

to the night, honestly, I'm tired.
sungguh, aku ingin memejamkan mataku, sebentar saja. menikmati udara yang keluar masuk paru-paruku. perlahan, mendengar suara detak jantungku, dan hanya detak jantungku.
aku ingin sunyi. dan hanya sunyi.
tidak ada teriakan. tidak ada luapan emosi.
hanya diam. sunyi. hanya aku, udara, dan detak jantungku saja yang terdengar.
apa mungkin? semua suara yang berlalu di telingaku hanya membuatku muak. membuatku lelah.
bahkan sampai saat aku meletakkan kepalaku tenang di atas kesesakanku. menyerahkan hawa dan semuanya pada malam. dan membiarkan mataku berkeliaran mencari sisa retakan bulan sabit dari langit, suara itu masih ada. mengganggu semua sistem yang semestinya bekerja dengan benar saat ini.
aku ingin berteriak, meminta semuanya diam.
percuma. suara mereka jauh lebih lantang dariku.
aku penat! ya! semua ini membuatku tak mampu bertahan. aku ingin berlari, menyeruak di tengah udara malam, menyanyikan senandung untuk bulan, dan menyisakan sedikit ketenangan untuk diriku sendiri!
tapi yang terjadi sekarang? aku hanya diam, menikmati kesesakanku, dan mempercepat penyusunan kerusakan sistemku.
kuletakkan tangan di bawah kepalaku. mencoba memejamkan mataku, menikmati sebuah suara, dan membiarkannya berdengung di telingaku, mencoba menjadikannya sebagai lagu tidur untuk malam ini. tak peduli betapa ia membuatku ingin berteriak menyerah, dan mengaku patut kalah.
karena aku tahu, dalam diam,. aku mampu mengenyahkannya, entah beribu atau bahkan berjuta frase dan kalimat yang telah dilontarkannya.
entah seberapa sulitnya ia mencoba untuk tak menghiraukan atau bahkan mendengarkanku.
dalam diam, aku bisa bertahan.
aku harap. kalau toh aku menangis sekarang, itu hanyalah tangisanku sebelum memenangkan semuanya. jangan hiraukan.

again,
to the night, I wanna cry.
*well, I am crying now*

this 'sorry' is for 'YOU'

maafkan aku jika aku membiarkannya berlalu begitu saja.
salahkan aku karena aku tak menyadari kau memberikan kesempatan itu kesekian kalinya.
maafkan aku karena aku begitu bodohnya kerena tak mengerti bahwa kau memang ada di sana untukku.
salahkan aku karena menyia-nyaiakan semua yang kau tawarkan tanpa memikirkannya terlebih dulu.
maafkan aku karena membicarakan hal klise yang mungkin membuatmu muak.
salahkan aku karena membuatmu lelah dengan semua tuntutan-tuntutan abnormal yang keluar dari kepenatan dan datarnya cara bicaraku.
maafkan aku karena tak menganggap kau ada di sana saat aku butuh.
salahkan aku karena membirkanmu berdiri di sana, menunggu, tanpa sebuah kejelasan.
maafkan aku karena menyangka kau hanya ada disampingku hanya saat kau egois atas waktuku
salahkan aku karena menyia-nyiakan waktu sempit yang sempat ada di sana, waktu itu, saat aku menyadari betapa bodohnya aku yang terus mengatakan maaf untuk kesekian kalinya.

aku gila!

"aku gila!"
"tahan dulu!"
otakku mulai terjurai burai! lalu kau bilang aku harus bisa bertahan?
coba saja dulu, hingga pikiranmu mulai terjurai, dan lihat apa iya kau bisa bertahan lebih lama dariku? hah?
bisa? mampu? GILA!
nanti kalau sampai aku kehilangan akal dan bentuk, kau yang salah!!
kalau aku sudah coba bertahan tapi tak bisa? kau mau apa? memaksaku?
tak perlu dipaksa! aku sudah tahu, kalau apa yang kau katakan, apa yang kau perintahkan, semuanya adalah sebuah paksaan. ya... dan jangan anggap aku tak tahu. aku tahu. aku paham. san karena itu....
aku gila!

diam?

siang itu aku berdiri. dengan kaki yang gemetar.
diam.nyaris tanpa suara.
sungguh. tenggorokanku tercekat.
aku meraba leherku. lalu diam lagi.
aku mulai berpikir. kalau aku bergerak sekarang, apa hasilnya akan jauh lebih baik?
aku mengusap-usap mataku, aku mulai mengantuk. mataku berair.
sempurna. kaki bergetar, tenggorokan tercekat, mata yang berair. selanjutnya??
cukup. jangan dilanjutkan. aku tak ingin menyumpahi diriku sendiri.
aku mencoba tersenyum, tapi seolah ada sesuatu yang menahanku dan berkata "jangan!" atau dengan kata lain, aku tak bisa dan tak boleh senang sekarang. semestinya aku mulai bergerak, berpikir dan menghentikan semua omong kosong ini. mencoba memulai semuanya dari awal, supaya apa yang terjadi kemarin tak lagi terulang, dan supaya nanti, akhirnya aku akan menuai sesuatu yang bisa membuatku berdiri tegak. angkuh. seolah tak akan pernah jatuh lagi.
tapi nyatanya?
APA? sudah berulang kali aku DIAM! tak tersenyum. tak bersenang-senang. dan memendam diriku dalam RASA TERTEKAN, dengan harapan dengan tekanan ini aku menjadi makin maju.
hasilnya? iya, aku berhasil. BERHASIL mempersempit jalan pikiranku. BERHASIL menenggelamkan aku dalam duniaku sendiri. Berhasil menjual pikiranku pada tekanan-tekanan mendasar yang justru kini membuatku BUNTU! TAK MAMPU BERPIKIR! TAK MAMPU MENCERNA APA YANG MEREKA KATAKAN! dan yang paling buruk. aku seolah tanpa segan menjurai buraikan kebahagiaanku, melepaskan waktuku yang menyenangkan dan menggantinya dengan segelintir waktu dengan tekanan bertubi di dalamnya.
lalu, apa yang harus kulakukan?
diam?

Diberdayakan oleh Blogger.

Search This Blog

press PLAY!

other posts...

want to know something?

Foto Saya
Bernadetha Amanda
I know English, a little French, and I do speak Ngoko and a few Krama (Javanese language has three kinds of hierarchical language, they're two of them) at home, well, mostly. I'm a big fan of Javanese literature, traditional art, music, theatrical performances, and books but I got this lack of time and chance to do all that stuff... yeah THROW A CONFETTI. (and yeah, feel free to drop some comments... BISOUS :*)
Lihat profil lengkapku

now, count!

free hit counter

followers

Pages